Logo Spektakel
Hari Raya dan Pulang

Home > Folklor >

Hari Raya dan Pulang

Hari Raya dan Pulang

15/05/22

"Terima kasih, Bu!" ucap seorang petugas bank setelah selesai melayani seorang ibu yang terlihat ceria pagi itu.

Kami keluar bersamaan dari bank swasta yang terkenal ramah pelayanannya. Ya, hampir setiap tahun dan setiap kali menjelang hari raya saya akan pergi ke bank untuk menukar uang ratusan ribu menjadi puluhan ribu untuk bekal 'THR' atau salam amplop bagi sanak saudara. Kurapikan sedikit pakaianku yang agak berantakan sembari mengenakan jaket.

Lalu lintas belum begitu padat, motor melaju di bawah terik matahari yang cukup terik. Sementara di pinggir trotoar berbaris motor para pengendara ojek online yang asyik menunggu pesanan. Akhirnya belokan kesekian mengantar saya ke tempat tujuan, sebuah taman dan danau di daerah Menteng, tempat yang sangat asri, sepi dan nyaman. Tempat favorit untuk menghabiskan waktu sekaligus menunggu jam buka puasa.

Hampir pukul setengah empat di jam tangan yang saya pakai dan akhirnya menemukan tempat duduk yang cocok untuk membaca sekaligus melihat air mancur sesekali. Halaman demi halaman berganti juga matahari mulai menuju tempat terbenam.

"Sendiri aja, Bang?" tanya seorang pengamen.

"Eh iya sendiri, nih, Bang. Kok, gak nyanyi, Bang?" tanya saya.

"Senar gitar putus, Bang" jawabnya sambil tertawa kecil.

"Wah apes, dong, Bang, yaudah ngobrol aja kita," saya melanjutkan percakapan sambil memasukkan buku ke dalam tas, "biasa ngamen di sekitaran sini, Bang?"

"Enggak sering sih, tapi sering lewat sini sekalian numpang tidur di musala, Bang" jawabnya santai.

"Abang puasa, enggak? Kalau saya sambil ngerokok gapapa ya?" tanya pengamen tadi sembari mengeluarkan sebatang rokok dari plastik ketengan.

"Puasa, Bang. Iya, santai aja gapapa, Bang" jawab saya sembari mempersilakan ia membakar rokoknya.

"Asli orang Jakarta, Bang?" tanya pengamen itu.

"Iya, asli Jakarta, Bang. Orang tua lahir dan besar di sini. Kebetulan juga asli Jakarta keluarganya." saya menjawab.

"Ohhh, berarti enggak pulang kampung ya berarti. Saya biasanya pulang kampung, Bang, seminggu sebelum lebaran, tapi udah lima tahun terakhir enggak pulang. Kadang suka kangen juga sama orang-orang di kampung. Kangen Ibu, Adik, dan teman-teman kecil saya di sana. Tapi gimana ya, Bang, kalau pulang juga bingung bawa apa, hahaha. Merantau ke Jakarta tapi ternyata enggak jadi apa-apa." pengamen asik bercerita.

Saya biarkan dia terus bercerita untuk menghabiskan sore hari itu dengan mendengarkan dia.

"Awal datang ke Jakarta lulus SMA niat mau nyari kerja, Bang. Saya pernah kerja di tiga restoran berbeda. Di restoran pertama saya kerja sekitar enam bulan, di restoran kedua saya kerja satu tahun dan di restoran ketiga saya kerja lima bulan. Selebihnya nyari-nyari kerja belum dapet lagi sampai sekarang, Bang. Sekarang kerjanya serabutan aja, kalo enggak ngamen ya bantu teman-teman yang punya usaha lalu jadi kurirnya atau bantu membersihkan tempat mereka. Asal bisa nyambung hidup mah apapun saya kerjain, Bang."

Rasa penasaran saya membuat saya bertanya kepada pengamen ini.

"Alasan Abang bertahan di sini apa? Kenapa enggak pulang ke kampung aja?"

Sambil membuang rokok yang sudah terlalu pendek untuk dihisap, diambilnya lagi sebatang rokok kemudian ia bakar lagi.

"Di sini saya masih bekerja, Bang. Walaupun engga punya pekerjaan tetap, tapi saya masih bekerja di kota ini." dengan tatapan mata yang mulai sedih ia asyik bercerita, "saya enggak pernah kasih tau Ibu kondisi saya di sini, yang Ibu saya tau di kampung saya baik-baik aja di Jakarta, Bang. Ibu enggak pernah minta apa-apa di kampung, cuma dengar kabar kalau setiap saya telepon dia udah senang, Bang" lanjut pengamen tersebut bercerita.

"Suka kirim uang untuk Ibu, Bang?" saya potong lagi dengan pertanyaan.

"Udah tiga tahun terakhir enggak kirim uang untuk Ibu, Bang. Waktu masih kerja di restoran, sih, suka kirim uang sebulan sekali. Alhamdulillah, Ibu enggak pernah minta, entah Ibu udah tau keadaan saya di sini atau belum."

Langit seakan menaungi percakapan kami, cuaca yang sebelumnya sangat terik mulai terasa sejuk berawan. Terkena percikan air mancur yang menyegarkan serta pepohonan yang meneduhkan membawa percakapan ini jauh lebih dalam lagi. Percakapan ini mengingatkan saya akan perkataan seorang teman; "Sejauh apapun dan bagaimana keadaan kamu, jika kamu masih baik-baik saja, maka percayalah doa ibumu masih didengar oleh Tuhan."

Rasa penasaran saya bertambah semakin banyak, dan terlemparlah pertanyaan lagi "Tahun ini mau pulang ketemu Ibu sama keluarga di kampung atau tetap di Jakarta lagi, Bang?" tanya saya sambil merapikan posisi duduk.

"Mau, sih, Bang, tapi enggak ada ongkos," sambil membuang asap rokoknya ke arah langit, ia lanjut bercerita. "Setiap kali lebaran Ibu juga suka menghubungi saya, Bang. Ibu sering nanya, ‘Kenapa, enggak, pernah pulang? Udah sukses, ya, di Jakarta sampai kerjaannya tidak bisa ditinggal?’ saya tertawa dan mengaminkan setiap kali percakapan itu ada di telepon." matanya mulai berkaca-kaca.

"Kalo ditanya, gitu, Abang kasih jawaban apa?" saya kembali bertanya.

"Belum ada waktunya, Bu. Kerjaan enggak bisa ditinggal. Kalau udah normal lagi saya pasti pulang, Bu. Walaupun saya belum bisa pulang tapi hati saya selalu ada di rumah, di samping Ibu." ia menjawab sambil memberi senyuman yang tulus kepada saya. Senyuman yang mengingatkan saya pada seorang wanita yang dua tahun lalu memberi senyum serupa sambil mengantar undangan pernikahannya.

Di sela-sela lamunan ia mulai memetik gitarnya. Gitar yang hanya bermodalkan lima senar, memainkan lagu yang sepertinya saya kenal:

Dan lalu

Rasa itu tak mungkin lagi kini

Tersimpan di hati

Bawa aku pulang, rindu

Bersamamu

Mm-hmm

Dan lalu

Air mata tak mungkin lagi kini

Bicara tentang rasa

Bawa aku pulang, rindu

Segera

Jelajahi waktu

Ke tempat berteduh, hati kala biru

Dan lalu

Sekitarku tak mungkin lagi kini

Meringankan lara

Bawa aku pulang, rindu

Segera

Dan lalu

Oh, langkahku tak lagi jauh kini

Memudar biruku

Jangan lagi pulang

Jangan lagi datang

Jangan lagi pulang, rindu

Pergi jauh

Dan lalu (dan lalu)

Dan lalu (dan lalu)

Dan lalu

Dan lalu

Selesai melantunkan lagu dari Float yang berjudul "Pulang", ia pamit. Sore itu saya belajar banyak dari seorang perantau yang rindu kampung halaman tetapi enggan pulang, menurut saya mungkin ia bimbang akan omongan tetangga. Sambil memperhatikan keadaan sekitar saya lihat jam yang saya kenakan, waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kupacu sepeda motorku dengan tarikan gas yang teratur. Malam hari sebelum tidur lirik lagu Float tadi terngiang:

Dan lalu

Air mata tak mungkin lagi kini

Bicara tentang rasa

Bawa aku pulang, rindu 

Mungkin kalimat tersebut adalah lirik yang sangat emosional untuk si pengamen tadi, ah iya saya lupa berkenalan dengannya. Lain waktu jika bertemu lagi akan saya tanya namanya dan di mana kampung halamannya berada.

Pagi datang terlalu pagi, meninggalkan malam yang masih memperlihatkan cahaya bulan yang meredup. Suasana seakan sudah menyambut hari raya yang tinggal beberapa hari lagi, ada ibu-ibu yang sudah mulai sibuk membuat kue yang akan mereka pamerkan pada hari raya nanti. Anak-anak yang sudah berkeliling sambil bernyanyi riang, nyanyian yang masih sama selama puluhan tahun jelang hari raya:

Baju baru alhamdulillah

Tuk dipakai di hari raya

Tak punya pun tak apa-apa

Masih ada baju yang lama 

Sore hari saya sudah duduk di tempat kemarin, tempat saya berbicara dengan pengamen itu. Belum ada tanda-tanda ia akan datang hari ini, mungkin ia masih sibuk di tempat lain. Saya pikir saya harus mendengarkan lagu Float terlebih dahulu sebelum mulai membaca buku, saya raih AirPods dari dalam tas lalu mulai membuka platform musik digital dan lagu dimainkan.

Lagu selesai dan saya masukan coba untuk mulai membaca buku yang saya baca, beberapa halaman sudah terbaca tiba-tiba seseorang menegur saya dari belakang. Pengamen itu datang lagi, ia lebih ceria hari ini. Mungkin penghasilan hari ini lebih dari cukup.

"Bang, ketemu lagi." Sapa pengamen itu.

"Wah, iya nih, Bang, kita ketemu lagi, ya. Kayaknya jodoh." saya menjawab dengan senyum, mempersilahkan dia duduk di sebelah saya. Saya teringat ingin memberikan dia sesuatu. "Bang, masih mau pulang kampung, enggak?"

"Mau, dong, Bang, hahaha." jawabnya sambil tertawa

Tawanya khas, tawa yang penuh kerinduan. Entah apa yang dia rindukan. Saya memperhatikannya cukup lama, tanpa kata kami hanya berpandangan.

"Saya ada sedikit rezeki buat Abang,” saya memberi dia amplop yang sudah saya siapkan dari rumah "enggak banyak, tapi cukup buat Abang sampai kampung." ia terlihat kaget, enggan menerima amplop tersebut. Cukup lama ia terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.

"Ini serius, Bang? Kenapa dikasih ke saya?" Dia bertanya dengan penuh kebingungan.

"Bang, rezeki yang ada di saya bulan ini udah lebih dari cukup. Dengar cerita Abang kemarin seakan nampar saya. Saya yang dikasih tempat kerja dekat rumah akhirnya sadar kalo rumah itu bukan sekedar tempat singgah aja, Bang. Kerinduan Abang sama rumah udah terlalu lama. Momennya juga tepat, Hari Raya” jawab saya dengan penuh senyuman.

Dia masih terdiam, masih tidak percaya dengan yang terjadi hari ini. Karena waktu sudah terlalu sore, saya izin pamit.

"Bang, diterima ya. Udah terlalu sore, saya mau beli makanan buat buka puasa juga" ucap saya sambil merapikan buku yang tadi saya baca.

"Bang, terima kasih banyak. Semoga ini jawaban dari doa-doa saya yang pernah saya minta. Saya enggak kenal Abang, tapi Abang baik sama saya. Kalau nanti saya udah dapet kerja lagi saya temuin Abang di sini. Terkadang hal kecil seperti ini berarti besar buat saya, Bang. Sehat selalu, Bang. Terima kasih udah menjadi orang baik” jawab dia sambil mengulurkan tangan.

Kami berjabat tangan cukup lama, dan sebelum pulang saya lupa bertanya satu hal.

"Oh iya, nama Abang siapa?" tanya saya.

"Reza, Bang." jawabnya sambil tersenyum.

"Kampungnya di mana, Bang?" tanya saya lagi sebelum melangkah pergi.

"Bandung, Bang" jawabnya dengan senang.

"Oke, Bang Reza, hati-hati pulangnya. Titip salam untuk orang rumah!" saya pamit pergi.

Di perjalanan saya berpikir, apa masih banyak orang-orang yang bernasib seperti Bang Reza? Rela menabung rindu tahun demi tahun yang sudah penuh tapi tak tersampaikan. Ah, pulang. Selalu jadi tujuan dari setiap perjalanan.

 

Cerita ini merupakan salah satu kiriman untuk Lomba Cerita Lebaran Spektakel 2022.