Home > Eksplorasi > Komunitas >
Koripan, Desa yang Dibangun Nyala Api
Koripan, Desa yang Dibangun Nyala Api
Jika akhir-akhir ini marak terdengar tuntutan dari masyarakat atas upaya pemerintah agar membangun desa dan negara, di desa yang satu ini, saya malah menemukan sebuah desa membangun dirinya sendiri dengan api. Orang-orangnya membentuk sebuah ekosistem kerja yang saling sokong, dari hulu hingga hilir. Membuat nama desa tersebut terkenal hingga pulau seberang dari hasil karyanya. Sekarang, tinggal bagaimana api di sana tetap terjaga, dan selalu mendapatkan arang segar.
Terletak di Kabupaten Klaten, Koripan merupakan sebuah desa yang tidak ada dalam peta. Silakan dicari nama tersebut di peta atlas, atau data Google Maps paling mutakhir sekalipun. Kemungkinan besar Anda tidak akan menemuinya. Yang dapat dengan mudah kita temukan hanya empat kelurahan yang menyusun Koripan; yaitu Kranggan, Segaran, Delanggu, dan Keprabon.
Uniknya, jika kita bertanya pada warga di sekitar Klaten dan Solo Raya, ada kemungkinan bahwa mereka dapat menunjukkan arah untuk mencapai Koripan. Desa ini seakan merupakan sebuah desa imajiner yang tidak tercatat negara. Yang membuatnya nyata, adalah turun-temurun suara palu-palu pandai besi bertalu. Dari besalen-besalen (tempat kerja pandai besi), nyala-nyala api arang sudah membuat banyak sekali alat-alat rumah tangga dan tani, bahkan pada suatu masa, alat perang.
Anomali administrasi
Mungkin definisi yang lazim dari untuk sebuah desa adalah cakupan wilayah yang meliputi sekumpulan masyarakat, dengan area luasan yang tercatat dalam data administrasi negara. Namun dalam beberapa prakteknya, wujud desa atau wilayah ternyata tidak selalu seperti itu. Dalam beberapa kesepakatan unik yang terjadi antar warga, dapat terbentuk sebuah desa di atas desa, yang bahkan tidak perlu dicatat negara keabsahannya. Koripan merupakan salah satu kesepakatan unik tersebut. Luasannya mencakup Desa Segaran, Kranggan, Delanggu, dan Keprabon. Terletak di Jawa Tengah, meliputi sebagian dari Kecamatan Polanharjo, dan sebagian lainnya ada di Kecamatan Delanggu.
Makam Mbah Korip. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Disebut desa, tidak juga persis seperti desa, kecamatan, pun, juga bukan. Secara sekilas, namanya bisa diartikan sebagai penghidupan (kuripan/panguripan, Bahasa Jawa). Nama tersebut konon juga diambil dari seorang tokoh tetua bernama Mbah Korip, seorang pandai besi kondang yang dahulu tinggal di area tersebut. Bila dibaca di situs Festival Gandon Kyai Korip, salah satu situs web resmi tentang Koripan yang dibuat oleh Desa Kranggan, toponimi atau penamaan area Koripan merujuk pada Mbah/Empu/Kyai Korip, seorang pembuat tosan aji (keris, tombak, parang, dan alat perang semacamnya) dari Zaman Kerajaan Mataram Islam. Mbah Korip dan Mbah Supa menjadi dua tokoh yang telah dianggap sebagai cikal bakal warga Koripan. Beberapa indikasi sejarah dari makam dan arsip memang menunjukkan bahwa mereka merupakan dua tokoh pandai besi yang cukup ternama.
Nama Koripan secara administrasi kependudukan memang tidak ada, namun jadi mengakar karena disematkan pada secuil tanah yang diberikan oleh Keraton sebagai perdikan, dan dijadikan sebuah pasar bernama Pasar Koripan. Sebuah tanah atau wilayah yang diberikan ‘kemerdekaan’, untuk dikelola sebuah komunitas, di luar tanggung jawab pajak kepada pemerintahan Keraton. Pasar tersebut sekarang sudah tidak ada, namun lokasinya tidak jauh dari makam kedua sesepuh; diapit antara lokasi makam Empu Korip dan Empu Supa.
Yang pasti, untuk beberapa ratus tahun, empat kelurahan disatukan oleh nama Koripan. Dalam keseharian yang sama, yaitu hembus napas dan ritme pukul perapian pandai besi. Untuk mempermudah definisi dan membuatnya menjadi lebih lebih spesifik, mungkin Koripan cukup cocok bila didefinisikan sebagai distrik; wilayah dalam sebuah kota, dengan ciri khas khusus yang membedakannya dengan bagian kota lainnya.
Bertemu Koripan
Rasanya cukup sulit diceritakan, kenapa saya tiba-tiba bisa ‘tersasar’ bertemu desa unik Koripan dan menceritakannya di sini. Pertemuan ini agak tidak dikira, dan tidak begitu direncanakan juga akan sedalam ini. Berkunjung ke Koripan, saya seperti dipantik untuk mengamati ragam lapis relasi manusia dengan besi, teknologi, peradaban, serta pasar. Semua dari keisengan datang mengunjungi sebuah festival.
Bengkel kerja Mbah Slamet dan Mbah Sri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Nama Koripan pertama kali saya dengar melalui Festival Gandon Kyai Korip pada 20 Mei 2025, sebuah festival pandai besi yang digelar di Desa Kranggan, salah satu desa yang tercakup dalam Koripan. Kabar tentang festival tersebut kurang dari seminggu sebelum acara berlangsung. Tidak banyak perasaan lain selain iseng dan ingin tahu, mendasari keputusan saya untuk menghadiri rangkaian festival tersebut dari awal sampai akhir. Toh kebetulan sedang luang, dan menarik juga, saya rasa tidak begitu banyak festival desa yang dikhususkan untuk sebuah profesi.
Lokasi festival terbilang cukup dekat dari Jogja, hanya sekitar 30 kilometer jaraknya. Ia digelar di sekitar Dusun Kranggan dan terpusat di balai desa. Seperti festival desa di DIY/Jawa Tengah pada umumnya, ada kirab/karnaval, diikuti dengan seremoni-seremoni kepala daerah, dan panggung utama yang menggelar pertunjukan wayang di malam hari. Sebuah hari yang semarak, dengan riuh kirab dan jajanan-hiburan pasar malam.
Sepanjang acara, alunan gamelan yang terkadang diseling dangdut dan campursari turut mengiringi. Entah dari panggung utama atau sudut-sudut pasar malamnya. Namun di antara riuh tersebut, ada dua tungku dan gandon (alas pukul) yang aktif dengan demonstrasi kerja pandai besi, tepat di sudut balai desa tempat acara digelari. Dengan nyala arang yang ditiup ubub (peniup) kipas elektrik, mereka menyumbangkan suara dan ritme “do… do… do… deng… do… do… do… deng...” sesiangan mengiringi sambutan-sambutan para kepala daerah dan ramah-tamah. Salah satu tungku kerja tersebut milik warga Koripan, dan satunya milik Prodi Keris Institut Seni Indonesia Surakarta. Setelah malam, barulah acara ditutup dengan wayangan semalam suntuk. Sebuah acara pesta di desa yang menyenangkan sekaligus melelahkan.
Nama yang Membuat Penasaran
Sepulang dari sanalah terbuka sebuah pintu menuju petemuan selanjutnya. Pintu yang membawa saya jauh lebih dalam, bertemu cerita para pelaku pandai besi Koripan di kehidupan sehari-hari, bagaimana desa imajiner berisi pandai besi ini bernapas dengan arang yang tersisa di masa kini. Ternyata betul, bukan Festival Gandon Kyai Korip yang dapat banyak bercerita tentang Koripan.
Salah satu kijing di areal makam Mbah Supa. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Bila dilihat dengan kacamata awam saya, mungkin festival di Kranggan tersebut tergolong tidak istimewa secara rangkaian acara; jika dibandingkan dengan konser-konser atau pagelaran-pagelaran festival yang berseliweran saat ini. Tetapi hanya dari mengamati orang-orang yang datang saja bisa muncul sebuah ketertarikan yang lebih dalam. Dalam acara tersebut hadir para pandai besi kawakan asli Koripan, namun hadir pula orang-orang dari Solo Raya dan sekitarnya, entah pengajar, atau pelajar dari Prodi Kriya Penciptaan Keris ISI Surakarta. Mereka disatukan dalam payung dunia pandai besi, dan sama-sama mengakui Koripan sebagai sebuah tempat pandai besi yang cukup sentral; bahkan dari beberapa generasi sebelum. Maka setelah menonton festival, saya putuskan untuk kembali dan berkenalan lebih dekat dengan orang-orang yang menyusun kehidupan di Koripan. Sebuah misi untuk menjawab rasa penasaran, sekuat apakah nama Koripan? Dan kekuatan apakah yang membangunnya?
Beruntung, saya sudah berkenalan dengan Pak Lurah Desa Kranggan. Pada sambang ulang pasca festival tersebut, Pak Gunawan dengan senang hati menemani dan membukakan saya pintu-pintu menyambangi jaringan pandai besi di Koripan. Setelah mengobrol sedikit tentang festival dan ingatannya tentang Koripan di Kantor Lurah, saya diajak makan bebek. Salah satu kuliner khas sana, menurut Pak Gunawan. “Saya bikin festival pande ini juga tujuannya agar pembicaraan tentang pandai besi tetap berjalan. Waktu itu para masyarakat ingin ‘Pak, mbok desa iki gawe gelar budaya opo, wayangan ngono.’ (Pak, desa kenapa tidak membuat acara gelar budaya, seperti wayangan misalnya). Lalu saya cari apa yang menarik biar gak cuma hura-huranya wayangan saja, tapi ada nilai desanya yang diangkat. Maka saya terpikir gandon pande besi itu.” Demikian ujar Pak Gunawan di tengah obrolan. Ia kebetulan juga merupakan inisiator dari festival pandai besi.
Pada sambang kedua saya dengan anggota distrik pandai besi ini, langsung terhidang cerita unik tentang nama Koripan. Selepas makan bebek, saya datang ke rumah seorang simbah pembuat pisau, Mbah Babe (67) namanya. Menurut cerita Mbah Babe, Koripan yang ia ingat sangat erat berkaitan dengan Pasar Koripan. Sebuah pasar yang terdiri dari dua buah pohon beringin yang besar dan lapak-lapak semi permanen.
Bengkel kerja Mbah Babe. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
“Koripan niku ndisik nggih pasar, sakniki dados masjid. Niku pas cilikan kula rame sanget lho mas, terus mati, namung sakniki dados Desa Koripan. Meliputi sekawan kelurahan, makane nek pados uwong ten Koripan namung ngerti jenenge, nggih angel, soale gede. Kula nggih tesih kelingan, bener-bener kelingan, wong kula sok dolan ten pasar riku kok. (Koripan itu dulu pasar, sekarang jadi masjid. Waktu saya kecil ramai sekali lho mas, lalu mati, tapi sekarang jadi nama Desa Koripan. Desa ini meliputi empat kelurahan, makanya kalau mencari orang di Koripan dan hanya tahu namanya, pasti susah karena areanya besar. Saya ya masih ingat, orang saya sering main ke pasar itu, kok).”
Ia mengingat bahwa yang ramai kala itu salah satunya memang merupakan para penjual bebek. “Dalane seko sarean Mbah Supa tekan daerah sarean Mbah Korip, bebek kabeh niku. Nggih mboten namung gaman, sayur nggih werna-werna niku wonten. (Jalan dari makam Mbah Supa sampai daerah makam Mbah Korip isinya bebek semua. Tidak hanya jualan pisau dan perkakas, ada beragam sayur-sayuran juga).” “Wit e ringin nggih duka tinggalane sinten, kulo enten niku nggih sampun enten. Tur riyin balai ne desa niku ten mrika mas. (Pohon beringinnya tidak tahu juga tinggalan dari siapa. Pokoknya saya ada, pohonnya sudah ada. Tapi dahulu balai desa juga berada di sana, mas).” demikian ia melanjutkan. Cerita tersebut juga diamini Mbah Sri dan Mbah Slamet, pasangan pandai besi perajin arit dari Kranggan yang kurang lebih seusia.
Koripan di benak saya langsung berubah. Bukan lagi tergambar sebagai sekedar nama dari kampung kumpulan pandai besi, namun sebuah ekosistem perajin pandai besi yang menyatukan empat desa. Dari hulu ke hilir, besalen (ruang kerja pandai besi), ke sawah, lalu ke pasar. Sebuah desa dengan artisan pandai besi yang telah bergenerasi, tumbuh dan hidup untuk waktu yang panjang dengan nafas yang sama.
Nafas yang Sama
Di Koripan, api yang mulai menyala pada masa Empu Supa dan Empu Korip masih menyala setiap hari, hingga hari ini. Saat ini, menurut Pak Gunawan, di Desa Krangggan masih tercatat ada sekitar 125 perajin pandai besi. Belum dengan tiga kelurahan/desa lainnya yang tercakup dalam sang distrik. Namun begitu, angka tersebut merupakan para perajin individual, hanya dikerjakan satu orang, biasanya dengan besalen di halaman rumah sendiri. Itupun beberapa hanya buruh, ‘ngobengke’; hanya bagian dari salah satu proses pembuatan, dan bekerja untuk seorang juragan. Kurang lebih hanya tersisa 3 besalen besar yang melibatkan lebih dari satu orang. Hal tersebut memang cukup berbanding terbalik dengan Koripan dahulu, yang banyak terdapat besalen besar di setiap sudutnya. “Dulu bapaknya istri saya bikin arit, yang bawu nuthuk (pekerja upahan untuk memukul) orang 4, jadi satu hari itu tenaga minimal 7-8 buah per proses. Kan masih manual dulu, sekarang yang nuthuk kebanyakan pakai mesin.” ujar Pak Eko, pembuat gagang pisau dan alat-alat pertanian asal Desa Kranggan yang saya temui pada kesempatan lain.
Arang khusus untuk pandai besi, di rumah Mbah Babe. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Sekarang, ritme besalen menyala enam hari kerja; Senin-Sabtu, lalu libur di hari Minggu. Tidak seperti dulu, yang menurut beberapa pelakunya yang sudah berumur 60-70 tahunan, dapat terus bekerja tanpa libur. Bahkan satu besalen bisa terus menyala dan memukul selama sebulan lebih. Namun begitu, nama Koripan tetap bergaung.
“Sampai para tengkulak di pasar ada yang mengaku-ngaku menjual produk Koripan, padahal bukan. Ada yang bikin perkakas, ada yang bikin tools buat pembuatannya; dari pahat, palu, sampai cap.” demikian cerita Kang Ocim, salah satu mahasiswa Prodi Keris ISI Surakarta yang menyempatkan mengobrol dengan saya tentang Koripan, di sela melakukan demonstrasi pembuatan keris di Festival Gandon Kyai Korip. Ia mengaku pernah berkunjung dan berguru pada seorang pandai besi generasi kelima di Koripan. “Di Koripan ada istilah juragan pandai. Dulu mereka punya mindset, kalau hari ini dapat uang, itu pasti akan langsung dihabiskan. Gak save money, karena memang besok sudah dapat uang lagi. Dulu di era-era keemasan mereka, satu juragan pande punya pegawai 5-7 orang. Dan itu terbayar semua. Dari yang tahap finishing, quenching, pasang gagang, dan seterusnya.” lanjut Kang Ocim, pemuda dari Bandung yang jauh-jauh bersekolah ke Surakarta untuk mendalami ilmu pandai besi.
Koripan tetap memiliki reputasi sendiri, namanya cukup besar sampai berbagai penjuru. Pak Tri (57), salah satu juragan produsen pisau di Koripan mengamini hal tersebut. Saya, ditemani Pak Gunawan, berkesempatan mengunjungi bengkel kerjanya yang besar nan sibuk di jantung Desa Kranggan, dengan belasan karyawan sedang melakukan berbagai tahapan membuat pisau, diiringi lagu-lagu Didi Kempot. Sembari menerima tamu distributor pisau yang sedang melakukan pembelian dan membawa produk pisaunya dengan mobil bak, Pak Tri bercerita.
Memasang gagang kepada pisau. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
“Produk Koripan niku kalih desa-desa liya nggih kalah sakjane, tesih sae produk-produk sanes e. Ngapunten niku, enten sing luwih murah, enten sing luwih mahal, tapi nek miturut mbah-mbah zaman riyin niku nggih sing paling sae, paling kondang Koripan. Nggih lading nggih arit niku, nuwun sewu, nggih Koripan. Saking pundi-pundi sing madosi nggih Koripan. Saking Kalimantan niku kula nggih enten sing madosi, padahal saking Cina saking liya-liyane nggih enten kan nggih an. Kula nggih mboten ngertos sing dipadosi ngapunten murah e, nopo landep e ngaten nggih. Napa kena prebawane Ki Korip nggih mboten ngertos. (Produk Koripan bila dibandingkan dengan desa-desa lain, sebetulnya masih bisa kalah dengan yang lain. Mohon maaf sebelumnya, sebetulnya banyak produk yang lebih murah, ada yang lebih mahal juga. Tapi jika menurut simbah-simbah zaman dahulu, yang paling baik, paling kondang ya hasil Koripan. Entah pisau, arit, mohon maaf, ya asal Koripan. Orang dari mana-mana mencari hasil Koripan. Sampai di Kalimantan saja, juga ada yang mencari produk Koripan ke saya. Padahal dari Cina dan lain-lain juga ada, kan. Saya juga tidak tahu, yang dicari apakah murahnya, tajamnya. Atau mungkin terkena wibawa Ki Korip, saya juga tidak tahu).” ujar pengusaha kelahiran 1962 tersebut.
“Karena di satu sisi Empu Korip sudah masuk cagar budaya, sudah masuk aset negara. Maka jangan sampai ini hilang, tinggal jadi cerita. Yang dulunya turun-temurun sebagai pandai besi dan sekarang sudah beralih, ya, mungkin karena faktor tingkat pendapatan sebagai pandai besi sudah mulai berkurang. Sedangkan di satu sisi dari orangtua juga sudah mewanti-wanti “Ojo kaya bapak, dadi pande besi rekasa (jangan seperti bapak, jadi pandai besi itu susah),” timpal Pak Gunawan. Ia melihat, secara status sosial, pandai besi mungkin dianggap lebih rendah daripada yang bekerja di perusahaan.
“Kula mboten enten sing neruske, makane kula mboten enten nggih pun mboten enten. Padahal nek dipikir-pikir nggih, nggawe ngaten niki saiki radi lumayan, daripada timbangane wong nyambut gawe lho mas. Laden tukang misale, rekasa, kepanasen. Nek niki kan mboten jeleh, kiyambak ten ngomah. Nek leren niku nggih awak e dewe kesel nggih leren. (Saya sudah tidak ada yang meneruskan, jika saya sudah tidak ada, ya sudah tidak ada yang lanjut memandai besi. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaan seperti ini sekarang ya lumayan. Dariapada orang kerja, lho, mas. Pembantu tukang misalnya, lelah, kepanasan. Kalau ini kan tidak capek, sendiri di rumah. Kalau capek juga tinggal istirahat,” tukas Mbah Babe, pandai besi yang telah memandai besi hampir seumur hidupnya. Sampai saat ini, ia masih melihat potensi kehidupan dari menjadi pandai besi.
Melanjutkan Bara Api
Saya jadi mengamati, sepertinya nyala api pandai besi di Koripan telah menjelma menjadi laku hidup. Api yang sepertinya memang harus menjadi laku agar dapat dihidupi sampai generasi-generasi berikut. Di Desa Kranggan, Mbah Sri dan Mbah Slamet (atau lebih dikenal sebagai Mbah Bagong) merupakan salah satu, atau bahkan satu-satunya, sepasang simbah yang saat ini masih bisa menurunkan api memandai besi untuk cucunya.
Kumpulan pisau Pak Tri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Mbah Sri bercerita, “Nek putu kula nggih sakjane awale kepepet. Berkeluarga, butuh pados kerja, terus nggih sakniki kan angel pados kerja, makane tumut nggen mbahne mawon. Dek e nggih gathekan kok mas. Apik dek e. Bakat kajenge. (Kalau cucu saya sebetulnya awalnya kepepet. Berkeluarga, lalu butuh cari kerja. Sekarang kan susah mencari kerja, makanya ikut simbahnya saja. Dia juga penuh perhatian kok, mas. Baik. Berbakat sepertinya).” Sayang sekali saya belum berkesempatan untuk mengobrol dengan cucu Mbah Sri dan Mbah Slamet, karena beliau hari itu sedang ada panggilan kerja di profesi satunya, yaitu penyedia katering.
Mbah Sri dan Mbah Bagong mengaku, kalau bukan dengan cucu sendiri, mungkin mereka tidak akan sesabar itu mendampingi proses belajar menjadi pandai besi. Walau praktik pandai besi secara ekonomi semakin sulit dan kepepet, namun paling tidak, saat ini pengetahuan pandai besi masih bisa diturunkan melalui keluarga yang saling sokong.
Bukan (Hanya) Ekonomi, Bukan (Hanya) Seremoni
Mungkin itu pula mengapa di Koripan terbangun sebuah ekosistem yang saling mendukung. Karena dalam nafasnya ada percampuran antara pasar dan keluarga. Kebudayaan yang bukan hanya seremoni dan simbol, serta potensi industri yang berdiri sendiri. Semua berkelindan, dari bahan dasar, pasar, keluarga, dan pendidikan. Saling menjaga keberlangsungan semua bagiannya; pelaku, penikmat, dan alam yang ada di sana. Koripan dengan kebudayaan pandai besinya menjadi ruang yang menarik untuk semua generasi.
Makan Mbah Supa. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Hal ini membawa saya kembali mengingat pengalaman hadir di Festival Gandon Kyai Korip. Semua terasa saling sambung. Pukul tetabuhan gamelan yang bertalu sepanjang festival, sejatinya tidak jauh berbeda dari iringan ritme pukul palu membentuk arit di gandon yang rancak. Seperti pesta yang dirayakan musik karawitan, pukul para pandai besi merupakan perayaan setiap hari atas besi yang bisa diolah, pasar yang masih berkumandang untuk menerima karya tersebut, serta tanam dan panen yang bisa diolah melalui arit buatan mereka.
Jaringan seperti yang ada di Koripan merupakan milik semua. Seperti yang terjadi di Festival Gandon Kyai Korip, orang-orang dari berbagai tempat, pandai besi maupun bukan, muda dan tua, bisa berkumpul bersama di Koripan. Dari muda-mudi yang pacaran hingga simbah kakung dan simbah putri yang mengajak cucunya menonton wayang.
Walau gelar festival sudah usai, laku memandai besi dari ujung ke ujung; pada setiap hari dalam setahun, harus terus dirayakan sebagai festival. Bagaimana pisau, arit, bendo, dan benda-benda hasil pandai besi lain tetap bisa menjadi. Serta bagaimana sesampai di tangan pengguna, pun, mereka tetap dirayakan. Awet, bahkan setelah lapisan oli yang menjaga alat-alat tersebut dari karat mulai hilang. Karena saat lapisan itu hilang, cara terbaik untuk menjaganya adalah dengan tetap digunakan.
Makam Mbah Korip. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Bengkel kerja Mbah Slamet dan Mbah Sri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Salah satu kijing di areal makam Mbah Supa. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Bengkel kerja Mbah Babe. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Arang khusus untuk pandai besi, di rumah Mbah Babe. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Memasang gagang kepada pisau. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Kumpulan pisau Pak Tri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Makan Mbah Supa. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)