Logo Spektakel
Sebuah Cerita yang Ditulis Seusai Mendengarkan Roman Underground

Home > Folklor >

Sebuah Cerita yang Ditulis Seusai Mendengarkan Roman Underground

Sebuah Cerita yang Ditulis Seusai Mendengarkan Roman Underground

15/06/22

Aku menunggumu, tepat di bawah atap stasiun Sudirman, di jalan Dukuh Atas. Langit berawan. Tapi aku tak yakin kalau hujan akan membasahi Jakarta karena kemarin ponsel pintarku bilang, hari ini cuaca cerah berawan. Aku percaya saja.

Setelah keluar kereta aku kembali memijit ponsel pintarku, mencari kontaknya, lalu memanggil. Hanya berdering. “Mungkin sedang di jalan,” pikirku. Sambil menunggunya, aku mengambil sebatang rokok Mild di saku kanan celana belakang.

“Boleh minjem korek, Bang?” tanyaku kepada abang ojek online yang nasibnya sama denganku: meratapi penantian. Ojek itu menanti penumpang, aku menantinya.

Kusulut api di ujung rokok itu. “Makasih, Bang,” ucapku sambil mengembalikan koreknya.

Kukuncir rambut bondolku, yang baru kupotong seminggu lalu. Ternyata rambut pendek tak membuat udara Jakarta jadi sejuk. Belum habis rokok sebatang, entah di hisapan ke berapa, aku melihatnya dari kejauhan. Dia dengan motor yang sama saat kami masih berpacaran empat tahun lalu. Motor itu khas sekali, Astrea hitam yang warnanya sudah pudar, dengan windshield bertumpuk stiker, dan keranjang sayur di tengah—tempat ia biasa menaruh bunga untukku waktu itu—serta plat nomor dinas yang mati dan ogah diganti. “Biar kayak pegawai negeri, enggak bakal ditilang,” katanya pada suatu waktu. 

Weiii, salamalekum,” serunya dengan wajah sumringah, seolah kami habis terpisah jarak antarbenua.

“Walaikumsalam,” aku cengengesan.

Kami berjabat salam.

“Kangen, lu, ye?” serangnya.

 “Yehhh, tai, yang ngajak jalan siape?”

“Yaudeh, sih, kalo kangen bilang,” ia masih menuduh.

“Gue sebat dulu,” Aku memperlihatkan rokokku tanpa mengindahkan tuduhannya.

Ia memarkir motornya di pinggir stasiun, tepat di belakang motor ojek online yang kupinjam koreknya tadi, dan menaruh helmnya di atas spion.

“Helm buat gue mane?” tanyaku. Sudah dari kejauhan aku tidak melihat sama sekali tanda-tanda keberadaan helm lebih.

“Oh, iye! Lupa…” jawabannya bernada canda.

“Serius, bego!”

“Demi Alex, lupa!” masih bercanda.

“Jangan bercanda, dehhh,” keluhku. “Terus, gue gimane?”

“Gampang,” jawabannya seperti di kota ini tidak ada polantas. “Lagian ke Blok-M doang ngapain pake helm.”

Gak, ah. Gue mau make helm,” pintaku ketus sambil kembali menghisap rokok yang sudah lebih dulu dihisap angin.

Yaudehh, kalo mau pake helm, ke rumah gue dulu ambil helmnye.”

Rumahnya memang tak jauh dari sini, aku mengiyakan.

Ayok, dahhh. Udah mendung nihhh.”

“Mendung belum tentu ujan,” ucapku bernada meledek sambil memadamkan rokok.

“Nih, lu mau pake helm gue dulu, enggak?” ia menawarkan selagi kakinya menggeser naik standar satu motornya.

“Lu aja. Nanti ditilang bego kalo gue doang yang pake.”

Ia tertawa kecil. Aku tahu tawarannya barusan hanya lelucon yang sengaja ia lempar untuk meledekku.

Ia mengengkol motornya berkali-kali. Kemalasan akutnya mengganti aki motor, membuat ia harus berdedikasi lebih untuk menghidupkan motor ini.

Akhirnya motor itu hidup. Asap hitam mengepul dari knalpot. Aku curiga, selain tidak pernah ganti aki, ia juga jarang ganti oli.

Ayokkk!”

Aku duduk dibonceng. Motor melaju, diiringi angin, bayangan kota, dan awan mendung yang diharap tak jadi hujan.

Di jalan, kami melihat beberapa pengendara motor berbalut jas hujan dengan motor yang basah. Tampaknya, hujan turun juga.

“Kayaknya mau ujan,” kataku.

“Mendung belum tentu ujan,” jawabnya, mengulang perkataanku tadi di stasiun.

“Kata-kata gue yang tadi, tuhhh.” Omonganku pun hanya berbalas tawa kecil.

Kami memutar Bundaran HI. Terlihat polisi tengah merapikan jalan yang hiruk pikuk. Kiraku, kami akan disetop, tapi ia sudah lebih dulu belok kiri menuju Jalan Menteng. Pohon yang rimbun membuat kami lupa langit sedang mendung. Sepanjang jalan Menteng, pohon-pohon tinggi menciptakan angin sepoy-sepoy. Rumah-rumah gedongan membuat kami merasa berada jauh dari kemiskinan kota. 

Kota ini terus berubah, toh ia tetap menghapal setiap belokannya di dalam hati. Bahkan setelah ia merantau sekian lama. Di sebuah perempatan, ia berbelok ke kiri tanpa melirik petunjuk jalan. Ke Cikini kami menuju.

Saat melalui lampu merah dekat jalan Cendana ia selalu merocos tentang segala macam rekam jejak presiden ke-2 itu. “Tuh, lu liat!” jari telunjuknya menunjuk ke seberang, ada tiang nama jalan: JLN. Cendana, “Dari dulu kompleknya selalu diportal.”

Komplek perumahan itu masih terlihat sama dengan ketika jalan ini jadi rute regulerku bertandang ke rumahnya. Portalnya sering tertutup rapat dengan pos jaga wajib lapor ekstra ketat. “Iya. Kayak mengasingkan diri dari realitas kota,” tandasku.

Area Menteng memang seperti punya gelembungnya sendiri. Kawasan elit ini berdiri gagah di tengah himpitan Manggarai, Tenabang, Salemba yang sesak dengan kampung-kampung kota. 

Tetiba ia mengerem dihadang lampu merah. Pengamen mengambil ancang-ancang sembari merapikan posisi gitarnya di trotoar. Ketika kendaraan rapi berbaris, mereka memulai pertunjukan. Bermodal gitar andalan yang sudah luntur warnanya serta senar gitar yang jarang diganti, ia melantunkan ‘Konservatif’ dari The Adams:

Siang kusaksikan engkau terduduk sendiri

Dengan kostummu yang berkilau

Dan angin sedang kencang-kencang berhembus

Di Jakarta

Dan aku 'kan berada di teras rumahmu

Saat air engkau suguhkan

Dan kita bicara tentang apa saja

Siang lambat laun telah menjadi malam

Dan kini telah gelas ketiga

Jam sembilan malam aku pulang

Dan aku 'kan berada di teras rumahmu

Saat air engkau suguhkan

Dan kita bicara tentang apa saja

Di Jakarta

Siang lambat laun telah menjadi malam

Dan kini telah gelas ketiga

Jam sembilan malam aku pulang

Tak disangka, lagu band yang akan kami tonton malam ini, sudah lebih dulu dinyanyikan. Ia yang merasa terhibur merogoh saku jaket kulitnya, dan segera memberi uang kepada si pengamen. Sambil membuka bungkus permen yang disulap jadi kantong uang dan digantung di tuning gitar, pengamen itu lantas menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih kemudian berlalu. 

“Oh, iya, tiketnya bawa, kan?” tanyaku teringat sesuatu.

Bawalahhh,” jawabnya sebelum kemudian melempar pertanyaan. “Udah dengerin playlist yang gue kirim kemaren belom?”

Udahhhh,” jawabku riang, karena ada lagu baru yang kusuka saat ia mengirim playlist itu: Morfem - "Roman Underground".

Tak lama kemudian lampu merah berganti hijau. Ia menginjak pedal gigi ke depan, lalu mengurut hand-gripnya ke belakang, dengan demikian kami melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian kami sampai. Antara stasiun Sudirman dan Cikini memang tak begitu jauh jaraknya. Kami hanya memutar Bundaran HI, lalu ke Menteng, lewat Gondangdia, dan sampai di Cikini.

Rumahnya yang bertempat di belakang kampus seni yang tak pernah sepi itu. Sampai di sana, aku kembali diculik ke masa lampau. Teringat jelas, waktu kami menonton Ari Reda di salah satu kafe yang tak jauh dari rumahnya, menonton pensi anak IKJ yang terkenal melahirkan bibit band ternama, dan pergi ke festival buku di TIM di mana ia tiba-tiba membacakan puisi untukku di atas panggung. Semua itu, kenangan itu, adalah Cikini Raya beserta isi-isinya.

“Assalamualaikum,” ucapnya pada isi rumah.

Sementara aku masih di belakangnya, malu-malu.

“Waalaikumsalam. Lho, kok balik lagi?”

“Ini, Ma, ada yang mau minjem helm,” ia menengok ke arahku.

Ibunya memicingkan mata. “Lhooo, kamu dari mana aja?” tanyanya menyerangku.

Aku menyalaminya, “Enggak dari mana-mana, Ma. Masih di rumah yang dulu, kok,” lalu tersenyum.

“Sini-sini masuk, Mama kangen kamu,” tangannya menuntunku mengajak ke ruang tamu.

Belum sempat kutempelkan pantat pada sofa yang sudah lama tidak kududuki, ia sudah menggenggam helm untukku.

Ayuk!” ajaknya.

“Mau ke mana, sih? Buru-buru amat,” Mama mencoba menahan.

“Nanti aja, ya, Ma,” tangannya menarik tanganku.

“Nanti mampir lagi, yaaa.”

Aku tersenyum, mengangguk, memberi salam, lalu pamit.

Baru sebentar ia menghidupkan motor, tiba-tiba hujan lebat. Kami terpaksa harus kembali. Kulihat Mama dari dalam rumah, belum beranjak dari tempat sebelumnya. Tampaknya, ia senang kami kembali. Dan aku harus mengingat-ingat lagi, semuanya, masa-masa itu. Cikini Raya beserta isi-isinya. Lantas aku membuka ponsel dan memaki benda itu, “Dasar ponsel bego! Katanya hari ini cerah berawan!”