Logo Spektakel

Home > Ini Indonesia > Komunitas >

Jurus Minyak Balur dari Sang Pendekar Rempah

Jurus Minyak Balur dari Sang Pendekar Rempah

Pada tangan Nizar Liza, tugas minyak bukan sekedar menjadi cairan penghantar panas yang dihimpun di wajan penggorengan. Sejak pandemi, larutan tersebut mengantar Pak Nizar pada harum, segar, dan hangat-khasiat rempah. Sebuah sudut rumahnya disulap menjadi laboratorium mini, berisikan jejeran alat saring, alur simpang-siur pipa destilasi, dan perkakas pengolahan pangan lain yang ia himpun.

Semua untuk membantu menyulap minyak menjadi tempat bercampur saripati 33 jenis rempah bahan dasar minyak balur. Hasil percampuran tersebut kini dikembangkan menjadi Zhafer atau Zhafer ain Elgur, sebuah jenama minyak balur dan produk kosmetik artisan yang ia rintis. Karena ketekunannya bergumul dengan minyak dan rempah tersebut, beberapa orang di sekitar Pak Nizar menjulukinya dengan sebutan ‘pendekar rempah’.

 

Pendekar rempah berdarah minyak

 

Jenama minyak Zhafer merupakan tambatan profesi Pak Nizar yang kesekian. Semenjak tahun ‘98, pasca lulus dari Universitas Pancasila dengan jurusan ekonomi, ia telah menjalani banyak profesi. “Pas lulus saya gak tahu ngapain, tahun 98 tuh susah nyari kerja kan. Ya apa adanya aja, saya ambil buat kerja,” ujarnya. Dari mengurus visa Arab, bekerja di penerbit Erlangga, bahkan pernah juga ke Palembang untuk membuka lahan hutan dan dijadikan perumahan. Pada era pandemi, barulah ia terpeleset ke dalam dunia minyak balur. Alasannya cukup tidak disengaja, ia terinspirasi untuk meramu minyak balur/pijat berbasis rempah yang ia beli, dalam versinya sendiri. “Gue bilang bisa, bisa,” kelakarnya. Sejak saat itu, sebuah sudut di rumah Pak Nizar tersulap menjadi dapur-laboratorium untuk bergumul dengan rempah dan produk-produk turunannya. 

 

“Dulu kakek saya pernah ada usaha bikin minyak kelapa,” Pria berusia menjelang 50 tahun ini membuka obrolan bersama Spektakel dengan menarik garis ke belakang, mengenang garis keturunannya. “Kebetulan kakek sering cerita dan ngasih tau cara bikin minyak kelapa. Jadi kita emang udah biasa. Dulu gampang juga dapetnya, biasanya minyak kelapa dibeli ke orang yang dagang gerobakan  atau ke warung, dibawa pakai wadah seng. Sayangnya, nih, anak muda sekarang nggak tahu perbedaan antara minyak kelapa dan sawit,” ujarnya dengan logat Betawi yang kental.

 

Nizar Liza menceritakan tentang pengalamannya mengolah ragam rempah menjadi minyak balur dan berbagai produk kesehatan lainnya. (Foto: SPEKTAKEL/Dzakwan Edza.)

 

Jenis minyak yang saat ini ia gunakan sebagai bahan dasar minyak balur adalah minyak kelapa (Cocos nucifera), sepupu jauh dari minyak kelapa sawit (Elaeis guineensis). Selain dapat menjadi sumber minyak alternatif dari praktek penanaman minyak kelapa sawit yang masif, menurut Pak Nizar, minyak kelapa juga cukup berkhasiat. “Teknik pengolahan masaknya (ekstraksi, red) masih tradisional. Nah cuman kan peralihan dari penggunaan minyak kelapa ke kelapa sawit terjadi di periode 80-an, dalihnya sih karena ongkos bikinnya yang lebih murah.” Di sisi lain, minyak kelapa memang sudah cukup lazim digunakan untuk bahan dasar bermacam ramuan tradisional di Indonesia. Salah satunya minyak cem-ceman (terjemahan langsung: minyak rendaman) dari Jawa Tengah, sebuah ramuan yang mencampur dan merendam beberapa jenis herba dalam minyak untuk membantu pertumbuhan rambut.

 

Mengenai peran minyak kelapa, Pak Nizar menambahkan, “Sebetulnya dari segi konsumsi, kita bayangin orang kampung dulu entah Betawi, Jogja, atau Jawa dan Indonesia manapun, ya mereka pakai minyak kelapa murni. Malah lebih asli, semacam VCO gitu kalau sekarang menyebutnya. Dulu itu juga orang rata-rata pada ngerebus atau kukus, goreng itu jarang banget. Ya ada perubahan juga di situ sih.”

 

Untuk mendapatkan minyak kelapa, Pak Nizar masih mengandalkan suplai dari produsen lain. “Memang kita itu kalau bikin sendiri bisa, ya cuman terkendala alat penyaringannya. Kebutuhan kualitasnya minimal 2-3 tahun itu dikemas botol jangan sampai bau apek. Berarti kan logikanya kalau kelapanya juga harus bener,” jelasnya. Namun, pada dasarnya harga minyak kelapa cenderung stabil bila dibandingkan sepupu jauhnya minyak sawit.

 

Menempa ilmu di ranah rempah

 

Dalam aspek rempah, ia mengaku sudah pernah mendapatkan pendampingan dari BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Minuman), perihal standarisasi dan dasar-dasar pembuatan jamu yang berkaitan obat tradisional. Tapi sebetulnya perjalanan Pak Nizar dalam mendalami kependekarannya lebih banyak dilakukan di dapur. Ia menghimpun sekitar 60 rempah dan bahan yang ia nilai berkhasiat, lalu dikurasi lagi menjadi 33 jenis yang saling mendukung. “Awalnya saya cuman menilai dari kualitas sisi luarnya aja (sifat-sifatnya yang hangat, atau kira-kira dapat membantu satu dan lain hal, red) sisanya dalemin lebih dari buku atau artikel yang membahas hal kayak gitu.” “Saya coba bikin aja tuh jahe kunyit kencur daun mint gitu-gitu, feeling aja pencampurannya yang penting kan khasiatnya,” lanjutnya. Selain itu, Pak Nizar juga mengaku banyak melakukan sholat malam untuk mempertajam intuisi dan keyakinan memilih bahan.

 

Minyak balur anak, salah satu produk turunan olahan rempah oleh Nizar Liza. (Foto: SPEKTAKEL/Dzakwan Edza.)

 

Produknya diuji dalam kejadian-kejadian sehari-hari di lingkungan rumah Pak Nizar dan sekitar. Pada masa pandemi, orangtua Pak Nizar sempat terkena covid. Dengan rutin ia pijat menggunakan minyak balur. “Alhamdulillah sembuh,” ujarnya. Begitu pula dengan anak-anaknya. Mereka juga kerap menguji dan menikmati khasiat produk buatan ayah mereka. “Awalnya anak pertama saya juga gak percaya sama khasiat minyak balur. Tau sendiri lah anak eksak, sainsnya kuat. Cuman saya kan santai dan paham, ya udah. Waktu sore itu anak saya abis mancing biduran, bentol gede banget. Ternyata diam-diam pake minyak balur saya tuh, sampingnya ngetes juga minyak kayu putih. Sorenya dia turun tuh ngasih tau saya di bawah, katanya, ‘iye bener, minyak kayu putih masih bentol. kalo punya ayah jam 10 tadi kempes.”

 

Metode riset dan pengembangan produk yang cenderung intuitif sekaligus otodidak tersebut, di satu sisi memang membuat standarisasi atau pengujian khasiat produk Zhafer menjadi lebih subjektif. Namun Pak Nizar dengan enteng menanggapi, “Kayak gitu, lu kalau gak percaya mah ya udah jangan. Kan kuncinya juga dari kepercayaan kita. Walaupun sebenernya kalau didalami secara medis sebenernya bisa juga dijabarin. Kadang ya juga jadi dikerdilkan sama pihak tertentu.” Jika pelanggan ingin mendalami apa saja yang ada di dalam minyak balurnya, dapat dipantau pula di akun Instagram Zhafer, Pak Nizar mencantumkan daftar 39 bahan yang digunakan dalam produk-produknya; lengkap beserta makalah ilmiah tentang khasiat-khasiat mereka.

 

Mendalami dunia rempah dan minyak seakan telah menjadi sebuah panggilan untuk Pak Nizar. “Saya gak tau ya, kepengen bikin sesuatu herbal, karena orangtua tuh sempet sakit-sakit dan berobat mahal.“ ujarnya. Baginya, membuat minyak balur merupakan solusi yang cukup ampuh untuk menyiasati hal tersebut.

 

"Dapur" tempat Nizar Liza mengolah ragam jenis rempah menjadi olahan produk kesehatan seperti minyak balur dan sabun. (Foto: SPEKTAKEL/Dzakwan Edza.)

 

Potensi bahan dasar

 

Sampai saat ini, Pak Nizar melengkapi daftar belanja bahan bakunya dari toko online para produsen atau distributor dari penjuru Indonesia. “Bahan rempah 33 itu dari toko online, belum bisa ke petani langsung. Saya cuman ada rencana sih.” ujarnya. Ia melihat sebetulnya ada potensi bagi para petani jaringan kota yang ada di sekitarnya. Ia rasa, hasil panen mereka dapat berpotensi menjadi lebih menguntungkan dan mudah digunakan bila telah disuling; diolah lebih lanjut menjadi minyak esensial. “Saya terus terang punya relasi ke petani ekstrak jahe yang dicampur peppermint, minyak daun cengkeh, minyak daun cabe, dan kayu putih. Harga ya menang di sana, hasil  nyuling. Jahe itu harganya tinggi, per liter bisa tembus satu juta lebih.” Dari proses penyulingan ini, ia juga melihat hidrosol (air sisa penyulingan) dapat menjadi peluang bahan baku tersendiri. “Hidrosol bisa buat nyembuhin jerawat dan antibakteri. Bahkan belum banyak dijual di toko. Peluang itu.” ujarnya.

 

Ia bercerita bahwa saat ini telah bekerja sama dengan beberapa produsen minyak esensial. Seperti dari Cilacap untuk bahan minyak esensial kayu putih, lalu minyak esensial peppermint di Semarang. “Saya beli peppermint di Cina, biasa aja ah kualitasnya. Sekarang saya ketemuin di Semarang, nyuling di Surabaya. Lumayan. Yang diuntungkan kan jadinya ke saya juga, bahannya masih seger.” Hal tersebut ia lihat sebagai sebuah potensi bagi tempat-tempat yang memiliki curah produksi rempah yang cukup tinggi. Tapi ia mengembalikan kepada para petani, apakah petani kota di sekitarnya memungkinkan secara HPP (Harga Pokok Produksi).

 

Sekarang Pak Nizar ada dalam proses pengembangan produk baru berupa sabun untuk mengolah sisa produksi minyak balur agar dapat terpakai. Seusai diekstraksi, rempah dan rimpang yang ia jadikan minyak balur bersisa menjadi ampas yang kasar. Ampas tersebut ia tiriskan, oven, lalu diblender untuk campuran sabun. “Itu hampir tiap bulan BPOM Jakarta mesen lebih dari 70-80 sabun, nah sabun itu belum ada izin. kenapa dia mau? Dalam suatu aturan tekstual mereka ternyata boleh. Selama dia tau itu aman dan gak diproduksi massal. Nah kalo kaya obat tradisional Cara Produksi Obat Terbaik (CPOT) itu harus sertifikasi,” jelasnya.

 

Rempah-rempah yang dikeringkan, bahan baku produk minyak olahan Nizar Liza. (Foto: SPEKTAKEL/Shuliya Ratanavara)

 

Mengurut jalan UMKM

 

Melalui Zhafer, Pak Nizar jadi cukup sering berdialog dengan BPOM. “Saya sering diajak diskusi baik di Jakarta maupun Pusat. Di situlah saya ngasih masukan untuk usaha mikro itu gimana.” Salah satunya ia menyampaikan bahwa membuat ruangan produksi ukuran 4 x 3 m untuk mengikuti standar BPOM bukanlah hal yang mudah bagi semua UMKM. Terutama di Jakarta yang terbatas tempat. Namun ia tetap akan mengembangkan ruang produksi tersebut untuk usahanya. “Sekarang kan usaha kan harus ruangan semua standarnya. Insya Allah tahun depan saya buat.”

 

Sampai sekarang, operasi produksi-distribusi Zhafer masih berjalan tanpa pegawai. “Istilahnya kan kita juga distribusi masih kurang masif, hanya dari teman atau orderan aja. Orang yang kerja pun ketika ada pesanan, semisal lagi nempel stiker ke wadah atau botol, ya kasih Rp. 100,000.” Belum lagi, tidak semua orang terbiasa menakar campuran 33 rempah dengan presisi. “Temen saya nyobain berantakan.” ujarnya. Ia tetap berencana mencari karyawan dalam waktu dekat. “Saya juga udah nyiapin ruang produksi 5000 botol minyak balur. Paling karyawan 1-2 orang aja. Saya lebih nekenin ke arah marketingnya. Kalau produksi mau berapapun gampang, kan udah ada alat.” ia menambahkan. Untuk arah bisnis ke depan, Pak Nizar menyasar untuk membuat produk-produk kosmetik herbal. “Ya salah satunya sabun sih, cuman belum dalam skala produksi besar.” “Nah yang menjadi tantangan untuk usaha mikro ini, bisa ga ngelakuin pekerjaan kaya gini. Saya rasa  bisa asalkan semua aspek bisa bahu-membahu mendukung.” tutupnya.

 

Setiap hari Pak Nizar masih terus mengolah dan memperdalam khasanah rempah yang ia miliki, sembari mengembangkan produk-produk yang dapat diturunkan darinya. Dari minyak balur, minuman, sampai sabun.  “Kadang kita tuh bikin-bikin aja. Jujur saya pribadi gak terlalu mentingin duit dulu ya, kualitas barang yang saya kejar. Harganya cocok ya udah, jual aja. Kalo kita terpatok sama HPP susah jalannya, gak bikin kreatif. Bikin aja dulu.”

 

Demikianlah gerak Pak Nizar sebagai pendekar rempah, terus memoles jurusnya berdasarkan berbagai memori dan pengetahuan yang berserak sepanjang perjalanannya, menjadi ahli waris pendekar-pendekar pendahulu. “Waktu itu pada kumpul keluarga saya nanya, siapa ya sekarang yang nerusin kakek jualan minyak? Terus ada yang menjawab ‘lah itu yang ngomong!’” kenangnya bangga.

Ignasius Satrio Krissuseno

Ignasius Satrio (l. 2004) Adalah seorang pelajar lepas yang belum berencana mentas belajar. Memilih untuk berhenti memakan bangku sekolah sejak kelas 2 SD, dan memutuskan untuk belajar di mana-mana. Di semak, di kampung, di kota. Pertama mengenal fotografi semenjak diberi kamera oleh bapak ibu saat berumur 4 tahun. Dalam perjalanan belajarnya, jatuh cinta pada dunia mencari dan meneruskan cerita. Telah mencoba medium tulis-menulis, fotografi, film dokumenter, dan beberapa medium eksperimental lainnya.

Mari bergabung bersama kami berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia. Kirimkan data kegiatan di sekitarmu ke kontak@spektakel.id

Menulis Untuk Kami

Editor: Redaksi