Home > Ini Indonesia > Komunitas >
Menjaga Napas Koripan, Desa Imajiner dalam Hembus Napas Ubub
Menjaga Napas Koripan, Desa Imajiner dalam Hembus Napas Ubub
Nyala api di atas 1000° C dalam jumlah yang masif dan tersebar di banyak titik, mungkin dapat berarti bencana bila ada dalam sebuah desa; entah itu letusan gunung berapi, atau kebakaran. Tapi tidak begitu kasusnya di salah satu sudut Jawa Tengah yang ini. Bukan membuat luluh-lantak, api malah menjadi nafas sang desa. Ia dijaga dan dihidupi, juga menghidupi orang-orangnya dalam banyak generasi.
Di sudut Klaten, terdapat empat kelurahan yang dibangun dan disatukan oleh api-api super panas; lebur menjadi sebuah desa bernama Koripan. Desa ini merupakan desa gabungan yang tidak ada di peta. Kelurahan Segaran, Kranggan, Delanggu, dan Keprabon lebur dalam sebuah ‘multidesa imajiner’ atau distrik besar yang menjadi rumah bagi para pandai besi andalan Klaten. Akhir Mei 2025 kemarin, saya melawat ke sana untuk turut melihat bagaimana warganya menjaga api tersebut tetap menyala.
Masa Jaya Simfoni Pandai Besi
Suara palu pandai besi di Koripan diperkirakan sudah bertalu sejak awal Kerajaan Mataram. Bahkan mungkin sebelumnya, bila dilihat dari peninggalan-peninggalan makam yang ada di Koripan. Secara lengkap, mungkin tulisan dari situs Desa Kranggan (salah satu bagian dari Koripan) ini dapat jadi rujukan: https://pandefest.com/.
Bagi orang-orang Koripan yang tidak memandai besi, kultur pandai besi di Koripan bahkan turut menyisakan memori atmosfer bunyi. Menurut cerita Mas Eksan, petani dan salah satu pendiri Sanggar Rojolele dari Desa Delanggu, dahulu tiap ia ikut orangtua ke sawah, dapat dengan mudah terdengar suara orkestrasi pandai besi di sana. Para besalen (bengkel kerja pandai besi) bersahut-sahutan, dengan formasi pukul lebih dari tiga orang, membentuk besi dengan palu dalam irama seperti sebuah pertunjukan musik.
Plat besi sebelum dibentuk menjadi pisau. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Pada kesempatan lain, sepasang sejoli pemandai besi, Mbah Slamet dan Mbah Sri bercerita, “Kala mben nuthuk nggih kados menika mas, paling mboten tiyang tiga. Sakniki golek bawu angel, mas. Dadi kula sak tekane, nek damel sing atos terutama. (Dulu yang memukul ya seperti itu mas, paling tidak tiga orang. Sekarang mencari pekerja upahan susah, mas. Jadi saya sekarang sesampainya saja, terutama kalau membuat arit dengan besi yang keras).” Mbah Sri juga mengamati, akhir-akhir ini para pengepul hasil pandai besi juga semakin jarang mencari barang. Kadang cari, kadang tidak. Akhirnya semakin lama semakin tidak bisa diandalkan. “Dadose nggih angel nek duwe bawu. Nek pajeng terus nggih pande terus, nek mboten enten tanggapan nggih mboten. (Kalau ada yang cari ya memandai terus, kalau tidak ada yang cari ya tidak memandai).”
Hal tersebut membuat simfoni pukul yang lazim didengar sekarang tidak lagi serancak dahulu. Sekarang paling banyak suara muncul dari dua palu, bahkan lazimnya hanya satu palu, membentuk besi sendirian. “Wah mesthi sampean seneng mas. Pak e niku pinter tenan mas, sing nduduhke, nuntun niku. Dodededeng dodededeng (wah pasti anda senang sekali, mas. Bapak saya dulu pinter sekali, yang menunjukkan, menuntun pukulan. Dodededeng, doedededeng).” Timpal Mbah Sri sambil memeragakan ritme pukul pandai besi. Walau sekarang berjalan seadanya, namun memandai besi sudah jadi bagian dari keseharian yang susah lepas. Terutama bagi Mbah Sri dan Mbah Slamet, juga para pandai besi seangkatannya. Simfoni ini telah memiliki tempo yang pasti. Mbah Sri mengaku, bisa sakit-sakit badannya jika libur terlalu lama, namun jika kerja terlalu lama, akan sakit juga.
Pohon Ditebang, Pasar Berkurang
Sang desa imajiner tidak bertahan dalam sebuah masa jaya yang konstan. Masa jayanya mungkin boleh dibilang sudah lewat. Tergerus secara berlapis, dari masa ke masa, oleh banyak kejadian dan gejala. Para pandai besi mulai susah beregenerasi, penggunaan alat hasil produksi mereka berkurang, dibarengi secara simbolis dengan salah satu ikonnya, Pasar Koripan, yang menghilang. Menurut simbah-simbah yang masih mengalami pergi ke sana, Pasar Koripan merupakan salah satu pasar besar yang ada di Klaten. Terletak di area distrik Koripan, di antara makam dua pepunden/tetua di sana: Empu Supa dan Empu Korip. Terdiri dari dua pohon beringin besar, pasar tersebut menaungi banyak ragam pedagang. Dari hasil-hasil pandai besi, hingga hasil bumi.
Sisa-sisa potongan pisau di bengkel kerja Mbah Slamet dan Mbah Sri. (Foto: Ignasius Satrio Krissuseno.)
Dalam pengalaman saya sendiri, pasar tradisional merupakan salah satu kunci utama dalam ekosistem produk pandai besi, karena di sanalah produk-produk pandai besi digelar dari berbagai tempat. Tidak harus dikhususkan untuk suatu hasil produksi; kadang memang semua produk dan barang dagangan ada dan saling bercampur dalam satu pasar. Dari hulu ke hilir, untuk keperluan produsen dan untuk konsumen. Bahkan pasar di tempat saya di Jogja, masih menerima setoran dari Klaten, Wonosobo, dan Bantul. Saat hari pasaran, tidak hanya alat yang sudah jadi. Ada banyak pula pandai besi yang membuka lapak untuk jasa reparasi. Keramaian pasar turut menjaga alat-alat produk pandai agar tetap bisa didapat dan digunakan. Mungkin dulu seperti itulah Pasar Koripan di setiap hari Legi.
“Pasar Koripan nggih mpun adem-adem mawon sakniki. Mboten kados riyin. Niku kan jarene wong-wong tua niku mergane pohon ringin e ditebang nika, dadose sepi. (Pasar Koripan ya sudah adem-adem saja sekarang, sudah tidak seperti dulu. Kalau kata orang-orang tua karena pohon beringinnya ditebang, lalu jadi sepi),” timpal Pak Tri, seorang juragan pisau dapur asli Desa Kranggan.
“Bubare niku antawis sewidak lima, antarane pas Gestok, Geger PKI niku. Antarane kula umur 7 tahun. Riyin niku enten ringin kalih, lajeng ringin setunggal e ditegor. Kirangan lajeng menopo nggih mboten ngertos, karepe dicilikke nopo menapa. Nyatane sakniki ringin diketok terus pasare mati. (Bubarnya sekitar tahun 65’, sekitar masa Gestok, ‘Geger PKI’. Saya saat itu sekitar umur 7 tahun. Dulu ada dua pohon beringin, lalu satu ditebang. Entah kenapa saya juga tidak tahu, apakah mau diperkecil atau bagaimana. Yang pasti setelah beringin dipotong, pasarnya mulai mati),” kisah Mbah Babe, memanggil kembali ingatannya. Dahulu, Mbah Babe tergabung dalam besalen keluarganya. Sekarang ia sehari-hari memandai pisau dapur di depan rumahnya sendiri. Menurut ingatan Mbah Babe dan warga Kranggan lain, Pasar Koripan sempat beroperasi dengan pedagang yang berkurang sampai sekitar tahun 90-an. Sampai saat beringin yang tersisa turut ditebang, lalu Pasar Koripan betul-betul hilang. Sekarang sebuah masjid terbangun di area Pasar Koripan dahulu bergaung.
Mbah Slamet dan Mbah Sri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Sepeninggalan Pasar Koripan, kehidupan pandai besi masih tetap berjalan. Koripan, nama yang menyatukan desa imajiner ini masih menyala pelan, menghidupi beberapa rumah dalam areanya. Walau saat ini bernafas dengan blower-blower kecil dan besalen-besalen yang lebih kecil, supaya lebih ringan secara operasional. Tidak dapat dipungkiri, jaringan artisan pandai besinya mulai berkurang juga.
“Sejak dibukanya pasar global, sekitar tahun 90an, pasar pandai besi ikut terdampak.” demikian Pak Gunawan, Lurah Desa Kranggan sempat menimpali ketika kami bertemu. Ia menilai bahwa ritme industri pandai besi turut menghadapi perubahan seiring pasar global yang semakin terbuka. Marak muncul alat tani dan alat rumah tangga yang dibuat secara pabrikan, datang dari berbagai negara. Alat-alat pertanian semakin terotomatisasi, semakin canggih. Menggantikan karya pandai besi, sekaligus mulai menggeser pasar tempatnya dijual. Dahulu, menurut Pak Gunawan, Koripan merupakan sebuah lingkungan perajin pandai besi yang sangat lengkap. “Macam-macam pokoknya, alat-alat apapun yang digunakan untuk pertanian, di sini ada. Sebetulnya spesialis sudah ada semua, Mbah Marto membuat tatah, ada yang di tempat lain bikin betel (pahat), cetok (sekop), pethil (palu kecil). Seperti ‘toko bangunan hidup’. Kalau mau cari tatah di Mbah Marto, kalau mau cari yang lain bisa ke tetangganya. Tapi kebetulan Mbah Marto baru saja meninggal.” Sedikit-sedikit hal tersebut juga berimbas ke ranah mimpi dan cita-cita penerus pandai besi. Pak Gunawan mengamati, semakin hari, anak-anak pemandai besi semakin jauh dari besalen. “Melihat sekarang, mayoritas jadi buruh pabrik anak-anaknya. Itu yang kita sayangkan. Ke Solo, Boyolali, Sukoharjo.” Pak Gunawan melanjutkan.
Dodododeng… Dodododeng…
Walau api semakin surut, sebetulnya di Desa Kranggan ada juga pandai besi berusia muda. Usianya sekitar 23 tahun. Namun ia cenderung sendirian di generasi tersebut. Menurut pengamatan Pak Gunawan, rata-rata pemandai besi di Koripan saat ini berusia 40 sekitar tahun ke atas, dengan yang paling tua berusia 75. Saat ini ia sehari-hari membantu simbahnya memandai besi, sambil sampingan menjadi penyedia katering di akhir pekan. Kebetulan saat ingin ditemui di rumahnya, ia sedang menyediakan katering, dan saya hanya bertemu simbahnya, Mbah Sri dan Mbah Slamet (Bagong).
Pisau di antara nota-nota penjualan di meja kerja Pak Tri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Menurut kedua simbahnya, “Belajar pande itu angel (susah), capek. Yang ngajari kalau gak sabar ya gak bisa.” Ilmu pandai besi juga menuntut kesabaran bagi mereka yang ingin memperoleh. “Putu kula nek sanes putu kula yo wegah (kalau bukan cucu saya, saya juga tidak mau mengajari),” lanjut Mbah Sri, sang simbah putri. Menurutnya, tergolong lama juga waktu untuk belajar pandai besi. Bisa lebih dari setahun, tergantung anak didiknya; apakah ia menyimak dan semangat atau tidak. “Niku manut atine kiyambak. Kula kudu saget, kudu iso. (Itu tergantung hatinya masing-masing. Harus merasa bisa, mampu).”
Setelah melihat Koripan, saya melihat bahwa keseharian memandai besi memang merupakan hal yang sudah menjadi bagian dari laku hidup, dan harus menjadi laku agar dapat dihidupi sampai generasi-generasi berikutnya. Bukan sekedar hingar-bingar seremoni, atau budaya simbolis dan potensi industri. Semua berkelindan, dari bahan dasar, pasar, keluarga, dan pendidikan. Membuat sebuah jaringan kultur di Koripan. Saling menjaga keberlangsungan semua bagiannya; pelaku, penikmat, dan alam yang ada di sana. Pukul para pandai besi merupakan perayaan setiap hari atas besi yang bisa diolah, pasar yang masih berkumandang untuk menerima karya tersebut, serta tanam dan panen yang bisa diolah melalui arit buatan mereka.
Saya jadi termenung, merasakan bahwa jaringan ini bukan hanya terbentuk di Koripan; melainkan semua industri-industri asli yang ada di setiap sudut kampung dan distrik yang kita punya. Yang saya temui di Koripan merupakan sebuah simbol relasi manusia dengan tempat mereka bertempat. Mengakar dengan sangat kuat, menaungi banyak keluarga, bahkan desa, selama bergenerasi. Dari Koripan, saya pulang membawa dua pisau dan satu alat pemanen padi yang unik, serta harapan agar bisa selalu turut menyaksikan api para perajin pandai besi, tetap bersambut dengan arang. Entah dari mana dan (sampai) kapan, irama rancak dodododeng… dodododeng… akan terus, atau kembali, bertalu.


Plat besi sebelum dibentuk menjadi pisau. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Sisa-sisa potongan pisau di bengkel kerja Mbah Slamet dan Mbah Sri. (Foto: Ignasius Satrio Krissuseno.)
Mbah Slamet dan Mbah Sri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)
Pisau di antara nota-nota penjualan di meja kerja Pak Tri. (Foto: SPEKTAKEL/Ignasius Satrio Krissuseno.)