Home > Opini > Kegiatan Budaya >
Layar Besar Yang Tak Tergenggam
Layar Besar Yang Tak Tergenggam
“Film sebagai wahana hiburan dan film sebagai media ekspresi dramatik, bukanlah satu dikotomi yang terpisah serta saling berhadapan – melainkan dua unsur dalam film yang tidak terpisahkan dari perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.” — Umar Kayam.
Pernyataan Umar Kayam pada 1981 itu sebenarnya bukan sekadar refleksi estetika, tetapi diagnosis struktural. Ia menolak perdebatan dangkal tentang “film serius” versus “film hiburan”, dan justru menunjuk persoalan yang lebih dalam: apakah perkembangan perfilman mengikuti perkembangan masyarakatnya?
Empat dekade kemudian, pertanyaan itu tidak hanya masih relevan; ia menjadi lebih mendesak.
Perubahan Masyarakat: Dari Penonton ke Produsen
Jika pada masa Umar Kayam masyarakat utamanya berperan sebagai penonton, maka hari ini masyarakat telah menjadi produsen konten audiovisual. Transformasi ini bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi perubahan struktur budaya.
Smartphone yang kini menjadi perangkat paling umum, telah mengubah relasi manusia dengan gambar bergerak. Kamera tidak lagi eksklusif milik industri. Editing tidak lagi memerlukan studio. Distribusi tidak lagi bergantung pada jaringan bioskop atau televisi.

Produksi tidak lagi eksklusif. Kamera dan cerita kini berada di tangan masyarakat—mengubah penonton menjadi produsen, dan industri menjadi hanya salah satu pemain dalam ekosistem yang lebih luas. (Foto: Arsip Sangkanparan)
Hampir setiap orang memiliki kamera di sakunya, lengkap dengan editing software serta akses ke kanal distribusi melalui media sosial. Fenomena ini melahirkan apa yang sering disebut sebagai creator economy; sebuah ekosistem di mana individu dapat memproduksi, mendistribusikan, dan memonetisasi konten secara langsung.
Dalam konteks Indonesia, jutaan orang tidak hanya mengkonsumsi film, namun secara aktif menciptakan narasi visual mereka sendiri.
Teknologi yang Membudaya: Vertical Cinema
Salah satu manifestasi paling konkret dari “teknologi yang membudaya” adalah vertical cinema. Format ini awalnya dianggap “kesalahan”; cara yang salah memegang kamera. Namun hari ini, ia menjadi standar dominan dalam konsumsi audiovisual, terutama di platform seperti TikTok, Instagram (Reels), serta YouTube (Shorts).
Vertical cinema bukan sekadar format teknis. Ia mengubah komposisi visual, ritme editing, cara sebuah cerita dibangun, dan bagaimana perhatian diserap.
Vertical cinema melahirkan frame yang lebih intim dengan fokus pada raut wajah serta ekspresi. Ritme narasi lebih cepat dibangun dengan cara fragmentatif, Bersama hook yang muncul dalam rentang 1-3 detik.

Format berubah mengikuti kebiasaan melihat. Vertical cinema bukan penyimpangan, melainkan bukti bahwa teknologi yang membudaya membentuk ulang bahasa sinema itu sendiri. (Foto: The World of Chinese)
Bagi sebagian, mungkin ini dianggap sebagai degradasi sinema, tetapi kita juga bisa melihatnya sebagai sebuah adaptasi cara manusia melihat. Dan di sinilah argumen Umar Kayam menjadi relevan kembali: bukan soal format mana yang “benar”, tetapi apakah format pertumbuhan film selaras dengan format pengalaman masyarakat.
Economy of Attention dan Perubahan Perilaku
Perubahan teknologi membawa perubahan lain yang lebih fundamental: economy of attention.
Hari ini, yang diperebutkan bukan hanya penonton, tetapi waktu dan fokus mereka.
Data global menunjukkan bahwa rata-rata waktu penggunaan smartphone mencapai 4–6 jam per hari dan sebagian besar waktu tersebut dihabiskan untuk konsumsi video pendek.
Platform berbasis algoritma mendorong konsumsi konten yang cepat, repetitif, dan adiktif. Dalam konteks ini, film bioskop tidak lagi bersaing hanya dengan film lain. Ia bersaing dengan ritual scroll tanpa akhir untuk mengkonsumsi video 30 detik atau live streaming dengan konten personal dari sesama pengguna.

Hari ini, layar berpindah ke genggaman. Menonton bukan lagi peristiwa kolektif, melainkan aktivitas individual yang bersaing dengan notifikasi, scroll, dan distraksi tanpa henti. (Foto: Shutterstock)
Dengan kata lain, film kini berada dalam ekosistem yang jauh lebih kompetitif daripada era Umar Kayam.
Data Indonesia: Penonton Ada, Tapi Tidak Seragam
Menariknya, di tengah perubahan ini, data menunjukkan bahwa bioskop di Indonesia masih kuat. Penonton film Indonesia mencapai lebih dari 80 juta pada 2025 dengan 8 dari 10 film terlaris adalah produksi lokal, bahkan beberapa film menembus lebih dari 10 juta penonton.
Ini membantah asumsi bahwa teknologi digital “membunuh” bioskop. Namun, data yang sama juga menunjukkan sesuatu yang lain.
Data 2024-2025 menunjukan rata-rata 205 film dirilis dalam satu tahun, namun hanya sebagian kecil yang mencapai performa tinggi dan mayoritas berada di ekor distribusi (long tail).
Artinya masyarakat masih menonton, tetapi tidak banyak varian film ditonton. Ini bukanlah kontradiksi, tetapi indikasi fragmentasi.
Fragmentasi Selera dan Kematian “Film untuk Semua”
Jika pada masa Umar Kayam film masih bisa membayangkan “penonton umum”, hari ini kategori itu hampir tidak ada. Selera telah terfragmentasi menjadi komunitas yang niche, dari genre yang spesifik (horor, misalnya), dengan preferensi algoritmik dan lahir dari micro-culture digital.

Bioskop pernah menjadi pusat pengalaman kolektif, ruang di mana cerita dibagikan, bukan dipilih secara personal. Di sini, film tumbuh bersama ritme sosial masyarakat. (Foto: Puskom Unsoed)
Fragmentasi ini diperkuat (kalau tidak bisa dibilang dilahirkan oleh) platform digital, dengan merangsekkan algoritma konten yang semakin personal. Fragmentasi ini membentuk penonton yang tak lagi berbagi referensi yang sama.
Dalam konteks ini, kegagalan banyak film Indonesia bukan semata karena kualitas, tetapi karena ketidaksesuaian dengan struktur selera yang terfragmentasi.
Bioskop sebagai Ruang Kolektif yang Tersisa
Di tengah fragmentasi, bioskop justru mempertahankan satu hal yang tidak dimiliki platform digital: kolektivitas. Data menunjukkan bahwa film yang berhasil di bioskop umumnya memiliki karakteristik “Keperistiwaan” (event - harus ditonton sekarang), komunal karena dirasa lebih bermakna jika ditonton bersama, grandeur karena hadir di layar besar dengan sistem audio membahana, serta dirasa familiar karena muncul dari IP yang kuat atau cerita yang populer.
Dengan kata lain, bioskop bertahan bukan karena teknologi, tetapi karena fungsi sosialnya. Ia menjadi ruang di mana pengalaman masih dibagi secara kolektif, di mana dalam perspektif Umar Kayam, ini yang dimaksud dari film tidak hanya mengikuti teknologi, tetapi juga struktur sosial masyarakat.
Ketidaksinkronan yang Berulang
Namun di sinilah masalah klasik muncul kembali. Jika mengikuti perdspektif Umar Kayam, persoalan utama bukan pada pilihan antara hiburan atau ekspresi dramatik, tetapi pada format pertumbuhan masyarakat.

Di luar bioskop, film tetap hidup sebagai ruang sosial. Pemutaran komunitas mengingatkan bahwa nilai sinema bukan hanya pada layar, tetapi pada pengalaman bersama. (Foto: Arsip Spektakel)
Hari ini kita melihat jumlah produksi film terus meningkat, di saat teknologi konsumsi berubah drastis yang menghasilkan perilaku penonton terfragmentasi. Sumber tontonan yang terasa tanpa batas pilihannya dari platform digital tak berbayar.
Tetapi disaat bersamaan, sistem distribusi bioskop masih terbatas, banyak film diproduksi tanpa mempertimbangkan konteks konsumsi, diiringi strategi rilis tidak selalu selaras dengan perilaku penonton. Akibatnya banyak film hadir, tetapi tidak menemukan audiensnya.
Ini persis seperti yang diulas Umar Kayam; pertumbuhan tidak mengikuti perkembangan masyarakat.
Dari Industri Film ke Ekosistem Audiovisual
Salah satu kesalahan mendasar dalam membaca situasi hari ini adalah tetap melihat film sebagai industri yang berdiri sendiri. Padahal, yang terjadi sekarang adalah integrasi ke dalam ekosistem audiovisual yang lebih luas: film bioskop, serial OTT, kreator konten, video pendek, dan live streaming—adalah kelindan yang hadir bersamaan.
Batas antara “film” dan “bukan film” semakin kabur. Seorang kreator TikTok bisa memiliki audiens lebih besar daripada film bioskp. Sebuah serial OTT bisa memiliki dampak budaya lebih luas daripada film festival.
Dalam kondisi ini, pertanyaanya menjadi: apakah perfilman Indonesia masih melihat dirinya sebagai entitas terpisah, atau sebagai bagian dari ekosistem audiovisual yang lebih luas?
Menuju Format Pertumbuhan Baru
Jika argumen Umar Kayam di tempatkan ke hari ini, maka implikasinya jelas; film harus memahami teknologi yang membudaya—bukan menolaknya, tetapi mengintegrasikannya. Penonton tidak lagi datang dengan waktu kosong, tetapi dengan distraksi.
Pembuat film mesti memahami fragmentasi, bahwa tidak semua film harus menjadi “karya besar” dan mengerti bahwa bioskop bukan sekadar layar besar dengan sistem audio yang megah, tetapi ruang kolektif yang memiliki fungsi sosial.
Apa yang disampaikan Umar Kayam pada 1981 bukan nostalgia, namun kerangka berpikir yang justru semakin relevan. Hari ini, kita tidak lagi berdebat antara film sebagai hiburan atau ekspresi dramatik. Perdebatan itu sudah selesai.
Yang belum selesai adalah pertanyaan apakah perfilman Indonesia tumbuh bersama masyarakatnya, atau malah berjalan di jalur yang terpisah dari perubahan teknologi, budaya, dan cara manusia mengalami cerita?
Jika jawabannya yang kedua, maka masalahnya bukan pada penonton, pun bukan pada kualitas semata, tetapi pada kegagalan membaca zaman.
Sumber:
- Umar Kayam, Film Sebagai Sarana Hiburan Dan Ekspresi Dramatik - Prasaran untuk Seminar Kode Etik Produksi Film Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Film Nasional 4-8 Mei 1981, Hotel Sahid Jaya, Jakarta.


