Logo Spektakel
Kota dan Kontra: Pantura dalam Senyap dan Bising

Home > Sorotan > Komunitas >

Kota dan Kontra: Pantura dalam Senyap dan Bising

Kota dan Kontra: Pantura dalam Senyap dan Bising

19/09/22

Sayup-sayup bebunyian kelompok tarling yang berlatih bergema dari kampung-kampung nelayan setiap harinya. Semenjak lepas siang hingga sore. Namun sayup musik terbawa angin kering hangat bergaram khas wilayah pantai itu hanya terjadi di masa lalu di salah satu kota tarling. Indramayu.

Kini aktivitas berlatih tarling dalam sepuluh tahun terakhir hanya terdengar di hari libur saja. Kota Mangga telah salin rupa. Orang-orang meninggalkan desa dan menjadi penduduk kota yang tak terlihat ketika matahari melongok bumi. Orang-orang akan meramaikan kota yang lebih hidup daripada siang hingga sore, sebagaimana tradisi madang1 ratusan tahun lamanya, sebagai manusia malam yang masih dianut masyarakat Indramayu. Aktivitas yang mungkin disebabkan siangnya yang keterlaluan panas mencubit di kota itu.

Sejak sore hingga jelang pagi, trotoar akan dipadati penjaja makanan berkilo-kilo meter dengan temaram bohlam bervoltase rendah dan petromax dari gerobak-gerobak kaki lima di pusat kota.

Sebelum marak penggusuran, keramaian hanya terjadi di seputar alun-alun dan mambo. Kini situasinya terbalik, alun-alun Indramayu menjadi angkuh tak dimiliki masyarakatnya, dibatasi pagar tinggi, hanya diperuntukkan bagi para pejabat, dan dijagai setiap waktu secara bergantian. Mambo pun menjadi pasar kuliner yang suram terbengkalai, dan ironisnya mambo berada di antara Kampung Arab, Pecinan, dan kampung-kampung lain yang mengelilinginya sebagai pusat pertemuan manusia dengan jajanan lezat dari berbagai budaya. Kini mambo selayak dunia distopia pasca-apokaliptik dalam film sains fiksi noir yang hening dan kaku.

Pun penduduk baru di pusat kota Indramayu itu keliwat aneh jika diamati benar-benar. Di manakah para pedagang dadakan ini tinggal pada siang harinya jika sore hingga malam dalam beberapa jam dapat membuat kota ini penuh sesak seketika dan terlampau banjir manusia? Apakah mereka tidur dalam gubuk triplek di bantaran sungai Cimanuk? Apakah mengkredit RSS2 Dusun Pabean di batas muara pertemuan sungai dan laut? Atau mungkin tinggal di rumah-rumah tua kosong tak layak huni di bekas Pecinan era Hindia-Belanda yang penuh lumut kering dengan tembok bau jamur? Atau tidur di dalam sempitnya warung rokok reot kaki lima mereka?

Dan alunan itu terdengar lagi selintas, tarling mendayu dibawa angin dari desa yang selamat dari penggusuran. Pemusiknya sudah jarang manggung. Desa-desa sebelah langganan tarling sudah tidak berbentuk desa sama sekali. Mereka digantikan pemukiman elit atau pula sudah jadi PLTU, tol, daerah wisata mangrove yang jadi akal-akalan para preman berdasi atau juga preman setempat, dan bandara yang nasibnya kini jadi pembuangan akhir pesawat rusak.

Baca Juga: Jalan Berliku Nita, Biduan Dangdut dari Cilacap

Untuk sejenak saja, yang masih tersisa menghela napasnya, ditemani bau comberan mampet penuh limbah hitam yang menyeruak, meletup-letup, aromanya kadang hilang dan kadang meneror semriwing bikin mual mengundang asam perut naik ke kerongkongan. Jadi menyanyi dan bermain musik sajalah! Karena mengingat yang lain sudah pasti menyodorkan sedih. Setidaknya lantun biduan yang diiringi melodi gitar bernada menyeret riang ala Pantura bisa mengobati luka sementara.

Pemain suling itu memejamkan mata. Dalam pikirnya, tak memiliki alat musik seperti suling sudahlah menjadi kisah lampau. Sekarang pemain suling tak lagi khawatir akan alat musik yang tak dimilikinya dahulu. Ternyata ada dukungan untuk membuatnya tetap bermusik. Alat musik itu datang hasil pemberian teman yang tinggal dari kampung lain. Teman dari kampung lain itu sudah tidak lagi bisa bermain dan saling-silang menanggap tarling. Karena tak dapat madang sambang kumpul di desanya yang telah lenyap, ia juga terpisah dari kawan dan grup tarlingnya.

Ia meniup seruling dan menguntai lirih, kepalanya dipaksa bersikeras menjaga kenangan. Layar ingatannya memperlihatkan dirinya berjalan kaki bersama biduan, mereka menjual keping rekaman dalam bentuk CD dan VCD berkeliling dari kampung ke kampung, tangan mereka beradu menerima rupiah menjual hasil produksi rekaman kolektif yang didukung dana desa.

Speaker subwoofer berukuran jumbo berdegup di kanan-kiri dan didorong menggunakan becak. Sebagian sound system dan para pemusik lainnya ada di atas mobil kap terbuka. Di antara mereka ada penyandang disabilitas yang lincah membunyikan nada sebagai bagian grup musik – jika dalam industri musik populer jumlah mereka sedikit atau mungkin belum ada.

Setiap melintasi desa baru, kelompok tarling disambut arak-arakan penuh suka cita yang mempersatukan warga dari kampung satu menuju kampung lain. Begitu salah satu cara swadesi khas kelompok tarling di beberapa dasawarsa lalu selain tampil di atas panggung hajatan, Nadran, Mapag Sri, dan pesta rakyat lainnya.

Bertualang dari desa ke desa kini tak mungkin dapat dilakukan. Karena mau mengamen di kampung yang mana? Di kampung tetangga yang berubah jadi bandara tak bandara itu? Di tengah jalan raya tol? Di PLTU yang tidak jelas bagi siapa kegunaannya dan bagi kota yang mana?

Meski yang dilakukan musikus-musikus trubadur itu acap kali dinilai kampungan dan catatan mengenai pesta arak-arakan keliling kampung pun hampir sulit ditemukan di media bahkan sejak mereka masih aktif melakukannya. Kisah mereka akan selalu menjadi cerita manis di sela keseharian masa depan dan pada ingatan orang-orang yang pernah berbagi kesenangan bersama mereka. Ingatan itu seperti mimpi yang keliwat romantis rasanya, membuat dada jadi hangat mengingat biduan bernyanyi mengabsen nama-nama warga dengan suaranya yang melengking disambut gigi-gigi manusia di sana-sini meluap kegembiraan yang tak selalu menyanyikan kegembiraan. Beramai-ramai dan menari di tengah jalan. Tidak ada lagi.

Perlu diakui, tindak musikus tarling tradisional ini sama sekali berbeda dengan cara kapitalistik yang memberi jarak pada konsumennya agar memiliki kesan spesial dan eksklusif. Metode ini mendekatkan mereka dengan sumbernya: masyarakat. Bukankah kisah ini terdengar spesial? Bukankah kisah ini terdengar eksklusif?

Kini sebagaimana umumnya cabang dangdut, tarling pun bertahan cukup baik dengan bentuk baru dalam performa yang lebih elektronik dan aktif pula di kanal digital.

*

Nun di paling timur dari kota tarling dan masih Pantura. Sekelompok anak muda bersolidaritas dengan caranya tersendiri membunyikan musik. Di Surabaya, kota urban kedua di pulau Jawa. Para musikus noise dengan tajuk Melawan Kebisingan Kota, memainkan musik berisik di trotoar di tengah kikuk-pikuk kemacetan kota. Mereka menjadikan musik dan performa sebagai kritik terhadap percepatan. Bahwa kebisingan tak sebanding riuh manusia di kotanya. Mereka di Surabaya bergeliat dalam kebisingan yang senyap. Mereka di Indramayu bergeliat dalam kesenyapan yang bising.

Menghitung waktu menunggu geliat itu memudar, dan menjalani sisa-sisa kehidupan yang selama ini masih terus diusahakan sampai segalanya benar-benar terampas, benar-benar terputus, dan mungkin beberapa tahun lalu dan hari ini adalah saat terakhir mereka bisa terlihat dalam imajinasi, bisa terdengar sebagai kenangan, dan bisa tertulis saat ini juga... dengan catatan yang sangat pendek.

1Madang: bertamu dan melakukan aktivitas menikmati malam di teras atau di luar rumah setelah sore hari, sebagai bagian waktu istirahat dari pekerjaan sehari-hari.

2RSS: Rumah Sangat Sederhana.

 

Tulisan ini adalah naskah dari buku Industri Musik yang Menjajah karya Galih Nugraha Su yang bisa dipesan langsung ke penulis. Pemesanan buku ini akan dibuka kembali pada pertengahan Oktober 2022, didistribusikan oleh OrangeHead.