Logo Spektakel

Home > Sorotan > Kegiatan Budaya >

Tradisi Ratusan Tahun Perlon Unggahan Banokeling

Tradisi Ratusan Tahun Perlon Unggahan Banokeling

Perlon Unggahan dilaksanakan seminggu sebelum masuk bulan Ramadhan. Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari baru muncul, dengan memulai dengan melakukan caos bekti yang berarti salam penghormatan pada para tokoh pemangku yang paling dihormati dalam rumah adat pasemuan. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Desa Adiraja, Cilacap menuju Desa Pekuncen, Banyumas. Jaraknya kurang lebih 20 kilometer.

Di Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, terdapat sebuah desa yang memiliki tempat khusus di masyarakat Banyumas. Desa Pekuncen, 2 kilometer dari jalan utama Margasana-Jatilawang, tempat tinggal anak cucu Ki Banokeling. Warga di desa ini akrab disebut warga Banokeling dan mereka ada keturunan langsung Ki Banokeling yang asal-usulnya menjadi rahasia dari anak cucu keturunan langsung.

Dua pendapat umum seputar kerahasiaan identitas Ki Banokeling. Pertama, kerahasiaan identitas dan asal-usul adalah bagian dari wasiat dari Ki Banokeling sendiri kepada keturunannya. Kedua, kerahasiaan tersebut sesungguhnya bersumber dari ketidaktahuan yang dilegitimasi sebagai bagian dari “uger-uger” atau peraturan adat Banokeling. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan di kalangan warga Banokeling diturunkan secara oral, hingga hari ini.



Kyai Banokeling mengajarkan lima hal tentang kehidupan bagi pengikutnya. Ajaran yang pertama adalah monembah yang berarti manusia dianjurkan beribadah dan menyembah kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing.

Kedua adalah moguru yaitu patuh terhadap perintah orang tua. Ketiga, ajaran mongabdi yang berarti saling menghargai dan menjalin hubungan antar sesama manusia. Keempat, ajaran makaryo yang berarti berkerja, sebab tanpa bekerja manusia tak bisa mendapatkan penghasilan yang dapat menunjang kehidupannya di dunia.



Dan ajaran yang terakhir adalah manages manunggaling kawula Gusti, yang artinya hubungan manusia dengan Tuhan tidak melalui perantara apapun seperti beberapa agama yang memiliki utusan atau rasul.

Dalam keyakinan Banokeling, setiap orang yang lahir di muka bumi adalah titipan Tuhan. Oleh karena itu, dalam berinteraksi dengan Tuhannya bersifat langsung tanpa perantara. Keunikan dalam kepercayaan Banokeling adalah para pengikutnya hanya mengenal syahadat, puasa, dan zakat saja. Mereka tidak melakukan shalat secara fisik dan berhaji ke tanah suci.

Bagi para penganut kepercayaan Banokeling, perilaku sehari-hari seperti berinteraksi dengan sesama manusia dan bercocok tanam sudah merupakan wujud interaksi pada Tuhan, karena hal tersebut dianggap sebagai proses mengisi kehidupan dengan kehidupan pula.



Desa Pekuncen punya desa saudara di Cilacap, Desa Adiraja - sesama keturunan sekaligus penganut ajaran Ki Banokeling. Warga Banokeling melaksanakan berbagai  ritual yang  berkaitan  dengan  tahap  daur  kehidupan  seperti  kelahiran, pernikahan, kematian dan ritual berhubungan dengan hari-hari tertentu dalam sistem kalender Jawa serta ritual yang berkaitan dengan lingkungan sosial dan alam seperti ritual bersih desa serta penggarapan lahan pertanian.

Salah satu ritual yang mereka lakukan adalah Perlon Unggahan yang dilaksanakan seminggu sebelum masuk bulan Ramadhan. Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari baru muncul, dengan memulai dengan melakukan caos bekti yang berarti salam penghormatan pada para tokoh pemangku yang paling dihormati dalam rumah adat pasemuan.

Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Desa Adiraja, Cilacap menuju Desa Pekuncen, Banyumas. Jaraknya kurang lebih 20 kilometer. Ritus ini adalah simbol napak tilas perjalanan Ki Banokeling saat menyebarkan ajarannya. Sembari berjalan, beberapa warga memanggul wadah yang berisi sesaji dan uba rampe yang berisi hasil panen dari ladang dan ternak mereka sebagai persembahan rasa syukur.



Pada siang harinya, kaum pria Banokeling berbondong-bondong menyembelih dan memasak kambing bersama-sama. Disaat para pria sibuk menyembelih dan memasak, ratusan perempuan memasuki makam Kyai Banokeling satu persatu dengan khidmat. Para perempuan membasuh anggota badan satu persatu, mulai dari kaki, tangan, hingga wajah sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya akan membawa keberkahan.

Seluruh ritual tersebut diikuti hingga ribuan orang, dari warga desa, keturunan trah Banokeling yang tinggal di luar kota - khusus pulang untuk mengikuti seluruh prosesi, hingga masyarakat umum yang datang untuk menyaksikan. Bila tetua adat mengizinkan, maka orang yang bukan keturunan langsung trah Banokeling dapat mengikuti prosesi Perlon Unggahan dengan mengikuti aturan yang berlaku. Misalnya, kaum pria wajib mengenakan pakaian adat Jawa dengan ikat kepala, dan kaum wanita hanya memakai kemben (kain jarit) dengan selendang berwarna putih.