Logo Spektakel

Home > Opini > Kegiatan Budaya >

Sekaratnya Ruang Solidaritas Budaya

Sekaratnya Ruang Solidaritas Budaya

Kesenian tak pernah lahir di ruang hampa. Ia adalah rahim tempat keluh-kesah, kemarahan, dan tawa masyarakat. Bagi masyarakat Nusantara, teater tradisi bukan sekadar tontonan pengisi waktu luang, melainkan sebuah institusi sosial. Sebagaimana Arja bagi masyarakat Bali atau Ketoprak bagi masyarakat Jawa, Lenong bagi masyarakat Betawi adalah sebuah ruang temu. Di masa jayanya, panggung Lenong adalah arena solidaritas, tempat berkumpulnya warga untuk menertawakan kehidupan, sekaligus merawat kewarasan kolektif di tengah himpitan struktural.

Namun, seiring berjalannya waktu, panggung-panggung komunal ini tergusur, baik oleh aspal peradaban kota maupun algoritma digital. Esai ini coba menelusuri bagaimana hilangnya ruang-ruang fisik teater tradisi tidak hanya menandai matinya sebuah genre seni, tetapi juga mengindikasikan krisis yang lebih besar: matinya ruang solidaritas kultural di perkotaan dan lahirnya ilusi diskursus di era digital.

Layar Kaca Sebagai Benteng Terakhir: Si Doel dan Pepesan Kosong

Di era 90-an, televisi Indonesia menyaksikan sebuah transisi kultural yang krusial. Kesenian panggung yang mulai kehilangan tanah lapangnya mencoba bertahan hidup dengan bermigrasi ke dalam layar kaca. Munculnya serial Si Doel Anak Sekolahan dan Pepesan Kosong bukan sekadar tonggak sejarah sinetron Indonesia, melainkan perwujudan modern dan mungkin benteng pertahanan terakhir dari tradisi Lenong.

Pada Si Doel Anak Sekolahan, kita melihat modernisasi esensi Lenong. Kehadiran tokoh seperti Mandra dan almarhum Benyamin S. (sebagai Babe Sabeni) adalah jembatan yang menghubungkan penonton modern dengan panggung rakyat. Gaya bicara mereka yang ceplas-ceplos, penggunaan diksi khas Betawi yang kaya warna, hingga dinamika "adu mulut" antara mertua dan menantu, adalah elemen klasik yang dipertahankan. Lebih dari sekadar komedi, Si Doel setia pada ruh Lenong yang sering mengangkat narasi "rakyat jelata versus ketidakadilan". Serial ini secara brilian memotret perjuangan, keterasingan, dan kegagapan masyarakat Betawi asli di tengah himpitan roda modernisasi Jakarta yang berputar terlalu cepat.

Di era 90-an, televisi menjadi benteng terakhir bagi Lenong. Dalam serial Pepesan Kosong, studio televisi disulap menjadi ruang kritis untuk menyentil birokrasi, korupsi, dan kesenjangan kelas lewat humor satir, seperti yang terekam dalam perdebatan di kantor formal ini. Ini adalah representasi bagaimana Lenong panggung memindahkan arena kritik sosialnya ke layar kaca, menjadi penyambung lidah rakyat di tengah himpitan modernisasi. (Foto: Arsip MNCTV)

Di sisi lain, jika Si Doel adalah drama realis dengan bumbu Lenong, maka Pepesan Kosong adalah panggung Lenong yang secara harfiah dipindahkan ke studio televisi. Evolusi bentuk ini mempertahankan format sketsa pendek dengan improvisasi yang sangat kental, mewarisi struktur Lenong Denes maupun Lenong Preman. Penggunaan latar belakang bergaya teater panggung, dipadukan dengan kehadiran ikon seperti H. Bolot (dengan ketulian situasionalnya) dan H. Malih, merupakan representasi sempurna dari komedi slapstick verbal Lenong.

Yang paling penting dari Pepesan Kosong adalah fungsinya. Melalui humor yang absurd dan satir, serial ini menyentil arogansi birokrasi, korupsi kecil-kecilan, dan kesenjangan kelas. Di sini, komedi berfungsi persis seperti di panggung Lenong masa lalu: sebagai penyambung lidah rakyat dan senjata kaum tak berdaya untuk melawan, atau setidaknya menertawakan kekuasaan.

Kematian Ruang Temu di Megapolitan yang Hampa Budaya

Lantas, apa yang terjadi setelah era 90-an berlalu? Perlahan tapi pasti, ruang-ruang kultural dan fisik tempat solidaritas itu dirawat mulai menipis, bahkan hilang sama sekali. Kota-kota besar di Indonesia berkembang dengan kacamata kuda kapitalisme, di mana tata ruang hanya diukur dari nilai komersial, tanpa menghiraukan kebutuhan komunal warganya.

Kita bisa mengambil Jakarta sebagai contoh episentrum dari fenomena ini. Sebagai sebuah megapolitan, Jakarta adalah magnet urbanisasi yang membuatnya luar biasa majemuk. Namun, kemajemukan ini paradoks: ia ramai, tetapi hampa secara budaya. Pembangunan kota difokuskan pada infrastruktur jalan tol, gedung perkantoran pencakar langit, dan pusat perbelanjaan. Ruang-ruang publik yang tersedia tidak dirancang untuk menjadi panggung spontanitas budaya.

Karakter ikonik seperti Mandra dan Benyamin S dalam Si Doel Anak Sekolahan adalah jembatan yang membawa dinamika 'adu mulut' Lenong ke dalam seting rumah modern. Mewakili panggung spontanitas Lenong yang beradaptasi di televisi untuk mencerminkan ketegangan dan keterasingan masyarakat Betawi di tengah pembangunan Jakarta yang pesat, jauh sebelum ruang fisik mereka hilang. (Foto: Instagram @mandra_ys)

Di masa lalu, sebuah lapangan kampung bisa disulap menjadi panggung Lenong tempat warga dari berbagai latar belakang duduk bersila, berbagi kacang rebus, dan menertawakan represi lurah setempat. Hari ini, lapangan itu telah berubah menjadi klaster perumahan atau ruko. Hilangnya ruang fisik ini berdampak fatal: masyarakat kehilangan arena untuk melakukan katarsis kolektif. Tanpa ruang untuk berkumpul dan menertawakan kehidupan secara tatap muka, solidaritas warga menjadi terfragmentasi. Manusia urban di Jakarta hari ini hidup dalam sekat-sekat apartemen dan perumahan berpagar tinggi, saling terasing di tengah keramaian.

Kota tidak lagi menyediakan ruang bagi seni budaya untuk bernapas secara masif dan organik di akar rumput. Seni yang difasilitasi oleh kota seringkali adalah seni yang telah "disterilkan", diadakan di gedung pertunjukan mahal, dengan kemegahan yang membuat jelata sungkan, menghilangkan fungsi utamanya sebagai ruang temu egaliter.

Ilusi Solidaritas dan Ruang Kritis di Platform Digital

Ketika ruang fisik di perkotaan dirampas, masyarakat urban yang terasing secara alamiah mencari ruang pengganti. Perkembangan teknologi seolah menawarkan jalan keluar melalui media sosial. Hari ini, platform seperti X (sebelumnya Twitter) sering dianggap, dan diklaim oleh sebagian penggunanya, sebagai ruang diskursus intelektual dua arah dan panggung kritik sosial yang baru.

Namun, klaim ini, secara sosiologis dan psikologis, sangat delusional.

Seiring hilangnya ruang fisik untuk panggung rakyat yang egaliter di kota besar seperti Jakarta, teater tradisi 'disterilkan' ke dalam gedung pertunjukan formal dengan panggung berbayar dan berjarak. Ini adalah wujud perkembangan kota yang hampa budaya, di mana seni budaya menjadi tontonan eksklusif, menghilangkan fungsi utamanya sebagai 'ruang temu solidaritas warga' dan 'katarsis kolektif'. (Foto: Ivuvisual/Wikipedia)

Meskipun X dipenuhi dengan cuitan satir, meme yang mengkritik pemerintah, hingga utas (thread) yang membongkar ketidakadilan, platform ini tak akan pernah bisa menggantikan fungsi komunal dari teater tradisi seperti Lenong. Ada beberapa alasan mendasar terkait argumen tersebut:

Pertama, hilangnya kedekatan fisik dan empati. Tawa di panggung Lenong adalah tawa yang menular secara fisik. Ada energi manusia, tatap mata, dan bahasa tubuh yang menyatukan penontonnya. Di X, kita tertawa sendiri di depan layar. Kritik yang dilontarkan di media sosial seringkali tereduksi menjadi kemarahan tanpa wajah (faceless anger) atau sinisme murni, bukan humor yang merekatkan luka bersama.

Kedua, algoritma yang menciptakan echo chambers. Lenong mengumpulkan orang dari berbagai pandangan di satu tanah lapang. Sebaliknya, X dirancang oleh algoritma surveillance capitalism yang mengelompokkan pengguna berdasarkan preferensi mereka. Alih-alih ruang diskursus dua arah, platform ini sering kali hanya menjadi echo chamber (ruang gema) di mana orang-orang saling memvalidasi opini kelompoknya sendiri dan menyerang kelompok lain. Ini bukan solidaritas, tetapi bentuk dari tribalisme digital.

Gambaran otentik dari sebuah lapangan kampung yang disulap menjadi panggung komunal untuk pertunjukan rakyat kuno. Di ruang fisik inilah tradisi seperti Lenong dulu berfungsi sebagai institusi sosial, tempat berkumpulnya warga dari berbagai latar belakang secara egaliter untuk 'menertawakan kehidupan bersama-sama' dan merawat kewarasan kolektif. Ruang fisik untuk solidaritas inilah yang sekarang telah hilang secara massif di perkotaan. (Foto: Wikipedia)

Ketiga, komodifikasi diskursus. Di panggung Lenong, kritik terhadap kekuasaan lahir dari keresahan otentik kaum bawah. Di X, diskursus intelektual dan kritik sosial sering kali dibajak oleh buzzer, engagement farming, atau sekadar hasrat narsistik untuk viral. Diskursus menjadi performatif. Isu-isu kritis umur simpannya sangat pendek, hari ini kita marah soal birokrasi, besok kita sudah terdistraksi oleh skandal selebriti. Tidak ada makna yang mengendap—yang menjadi modal solidaritas jangka panjang.

Menggugat Kembali Ruang Kita

Si Doel Anak Sekolahan dan Pepesan Kosong adalah monumen pengingat tentang bagaimana teater tradisi pernah menjadi medium yang sangat berharga bagi kewarasan dan perlawanan kultural masyarakat. Mereka membuktikan bahwa seni yang merakyat mampu menjadi katup pelepas tekanan hidup dan alat kritik yang elegan.

Menilik kembali akar budaya yang mendalam di Batavia kolonial: sekelompok musisi orkes Topeng Betawi/Gambang Kromong kuno, yang merupakan komponen fundamental dari teater Lenong. Foto ini mewakili warisan solidaritas budaya asli, yang dibangun di atas panggung-panggung spontan dan musik kolektif sebelum teater tradisi tersebut terfragmentasi oleh megapolitan dan digantikan oleh ilusi diskursus digital di media sosial. (Foto: Wikipedia)

Namun, kehilangan Lenong dan teater tradisi lainnya dari ruang publik fisik kita bukanlah proses alamiah, melainkan hasil dari kebijakan tata kota yang abai dan gaya hidup yang individualis. Menggantikan panggung-panggung komunal tersebut dengan linimasa digital seperti X adalah sebuah dekadensi kualitas interaksi manusia. Kita menukar solidaritas komunal yang hangat dengan ilusi konektivitas yang dingin dan reaktif.

Selama kota-kota seperti Jakarta terus membangun tanpa menyisakan ruang bagi warganya untuk sekadar berkumpul, bertegur sapa, dan menertawakan kehidupan bersama tanpa sekat kelas, maka kehampaan budaya ini terus menganga. Dan selama kita masih percaya bahwa perdebatan penuh makian di balik akun anonim di media sosial adalah bentuk "diskursus intelektual", kita akan semakin jauh dari makna solidaritas yang sesungguhnya. Kita butuh kembali ke panggung, ke lapangan, ke ruang nyata; karena tawa dan kemarahan yang paling membebaskan adalah yang dirasakan bersama-sama.